Sekretaris Komisi IV DPRD Sumenep, Abrari

Sumenep, (Media Madura) – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur akan menerapkan program Digital School di 10 Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri pada tahun ajaran 2019-2020 ini.

Ke 10 SMPN itu tersebar di empat sekolah di kecamatan Kota, dua di kecamatan Saronggi dan Kecamatan Kalianget, Bluto, Ambunten dan Gapura masing-masing satu sekolah.

Namun, penerapan program baru tersebut mendapat kritik tajam dari Sekretaris Komisi IV DPRD Sumenep, Abrari. Pasalnya, program tersebut pernah diwacanakan pada tahun 2000.

“Itu (digital school) kan lagu lama yang diputar dengan kaset baru. Sejatinya, tanpa di programkan, digital itu sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan siswa,” kata Abrari, Kamis (26/6/2019).

Politisi PDIP ini mengatakan, harusnya Disdik lebih fokus kepada substansi pendidikan, salah satu substansi pendidikan adalah membenahi mentalitas SDM termasuk SDM peserta didik supaya dalam konteks penggunaan digital bisa terarah, efisien dan efektif.

“Kalau melihat programnya, Kadisdik yang baru ini memang telah melakukan inovasi, tapi jangan sampai keluar dari tujuan pendidikan itu sendiri,” ucapnya.

Hingga saat ini, Abe-panggilan akrab Abrari- mengaku, pihaknya tidak pernah diajak rembuk bersama dalam pencanangan program digital school tersebut, bahkan hanya diberi laporan atas program tersebut.

“Kami tidak pernah diajak rembuk. Kami hanya diberi laporan oleh Dinas Pendidikan bahwa tahun ini dicanangkan program tersebut,” tandasnya.

Sementara itu, pada sejumlah media Kadisdik Sumenep, Bambang Irianto mengatakan, bahwa teknologi terus berkembang, sehingga Disdik harus segera menyesuaikan dengan perkembangan teknologi tersebut dengan menerapkan Sistem Pembajaralan Digital School.

Bambang menjelaskan, pada penerapan Digital School, setiap materi pembelajaran sudah berada di satu server yang sifatnya Offline bukan Online. Jadi para siswa bisa mengakses materi pembelajarannya dengan menyambungkan ke server di sekolahnya.

“Ini offline, bukan online. Jadi tidak butuh jaringan internet, dan sekolah maupun siswa tidak perlu menggunakan jaringan interent untuk menghubungkan ke server, melainkan bisa langsung masuk dan mengakser ke server secara offline. Sebab, di dalam server tersebut sudah terinstal semua mata pelajaran Kurikulum 13 (K13),” terangnya.

Reporter : Rosy
Editor: Zainol

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.