Oleh : Habibah Febriani

*) Penulis adalah pegiat Teater Akura, Universitas Madura (UNIRA)

Matahari yang dianggap satu-satunya tengah gugup berbicara pada awan yang hampir terenggut gelap menyergap dengan cepat langit tampak gemuruh melepas mengigil janji ingatan dengan tuhan.

Pada setiap sudut ranjang rahasia terdengar tapakan orang-orang berkeliaran mencari ujung pangkalnya, Namun pada akhirnya sepasang bajunya terlepas.

Di sentakan wajahnya yang terkatup-katup.

Di gang pintu pelepas birahimu dari rumahnya yang pundar melukis kesidihan dengan secarik kertas ikatan membelok haluan di pinggiran kehidupan dari garis Tuhan dalam dirimu,

Dan kau Kemanakan ?

Dessus Angin membelah jiwa dan kalian tahu, daun akan terbuka. sedang aku hanya sekedar tahu saja di pelabuhan kecil sumpah serapahmu

Yang di ambang gugup antara pintu, ketika hendak keluar.

Tiba-tiba berperbincangan memaksaku untuk ke dalam

Di sanggarnya Burung-burung berkicau dengan lembut namun jiwanya tengah parau dengan garis tuhannya.

Meski dirinya harus menggigil memanggil dari dalam jendela ingatan mimpi aku hubung-hubungkan dengan kata yang tak sampai diwujudkan

Namun dari birahinya aku coba memulai kembali berlarian menembus layar melalui rahang-rahang laut dengan beraninya menerjang batas langit biru

Meski tidak sekali terpekik di balik semak angin yang tampa enggang menyentuh rapuh dahan daun yang hampir jatuh dengan runtuh di dasaran reranting menarik ku menjadi Perempuan Sajie.(*)

24 April 2018

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.