Divonis 14 Tahun, Terdakwa Pencabulan Anak di Sampang Minta Maaf

Terdakwa pencabulan anak memasuki ruang persidangan agenda putusan hukum di PN Sampang, Selasa (28/8/2018) pukul 12.00 WIB. (Ryan Hariyanto/MM).

Sampang, (Media Madura) – Terdakwa pencabulan anak di bawah umur, Saman (60) divonis majelis hakim Pengadilan Negeri Sampang, Madura, Jawa Timur, dengan hukuman penjara 14 tahun. Juga dijatuhi pidana denda sebesar Rp 500 juta.

Hakim Anggota Pengadilan Negeri Sampang, I Gede Perwata menyatakan warga Desa Bira Timur, Kecamatan Sokobanah, ini terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah, sebagaimana diatur dan diancam dalam Pasal 81 ayat (1) UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Terdakwa dinyatakan bersalah dan mengakui perbuatannya, hukuman diputus 14 tahun penjara dan denda Rp 500 juta atau jika tidak sanggup membayar digantikan kurungan 3 bulan,” kata I Gede Perwata usai persidangan, Selasa (28/8/2018).

I Gede sekaligus Humas PN Sampang itu menjelaskan, putusan majelis hakim lebih ringan dibandingkan tuntutan jaksa dari sebelumnya yakni 15 tahun penjara. Adapun pertimbangan hakim yang meringankan vonis ini adalah karena Saman merupakan tulang punggung keluarga.

“Iya terdakwa tulang punggung keluarga sebagai petani,” ujarnya.

Menanggapi itu, Penasehat Hukum (PH) terdakwa dari Pos Bantuan Hukum Advokat Indonesia (Posbakumadin) Kabupaten Sampang Abd Wafur, mengaku putusan majelis hakim dinilai sudah sesuai dengan perbuatan terdakwa.

“Apalagi terdakwa sudah mengakui semua kesalahannya, bahkan terdakwa hanya bisa minta maaf kepada pihak korban serta menyesali perbuatannya,” jelasnya.

Dengan putusan itu terdakwa hingga kini belum memberikan sikap apakah akan melakukan upaya banding atau tidak. Namun, masih ada batas waktu selama satu minggu menyikapi putusan tersebut.

“Terdakwa sebenarnya masih akan berkonsultasi sama keluarganya dalam upaya banding atau tidak, ditunggu saja nanti,” singkatnya.

Sekedar diketahui, kasus pencabulan anak di bawah umur dilakukan oleh Saman (50) terhadap korban inisial FN (9) di Desa Bire Timur, Kecamatan Sokobanah, ini sempat menjadi perhatian sejumlah masyarakat di wilayah itu.

Selama penanganan kasus tersebut proses hukum yang ditangani Polres Sampang dinilai main mata. Sebab, penyidik yang menangani pencabulan menimpa siswi kelas II SD di Sokobanah sangat lamban menangkap pelaku. Terlebih, terdakwa masih merupakan keluarga aparat desa.

Peristiwa pencabulan anak di bawah umur terjadi pada Jumat 6 April 2018 lalu. Keluarga korban melaporkan ke Polsek Sokobanah pada Sabtu 7 April.

Aktivis perempuan dan anak yang mendampingi perkara itu dari Jaringan Kawal Jawa Timur (Jaka Jatim) Korda Sampang Siti Farida, menilai putusan hukum 14 tahun yang dijatuhkan pengadilan sudah keputusan maksimal dan patut untuk diapresiasi. Sehingga dengan putusan ini bisa memberikan efek jera terhadap pelaku serta tidak ada korban lain.

“Putusan itu sudah maksimal dan pengadilan sanga memperhatikan undang-undang perlindungan anak dibawah umur,” pungkasnya.

Reporter: Ryan Hariyanto
Editor: Zainol

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.