Pamekasan, (Media Madura) – Pemerintah Kabupaten Pamekasan terus berupaya dengan beragam cara untuk menekan angka pernikahan dini, sebab dianggap akan memunculkan banyak akibat buruk bagi para pelakunya.

Faktanya, kasus pernikahan dini masih saja terjadi. Bahkan menurut Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN), Musyaffak, pernikahan dini di Bumi Gerbang Salam angkanya sangat yinggi.

“Mereka yang melakukan pernikahan dini paling banyak masih duduk di bangku SMA atau sederajat,” terang Musyaffak Kamis (31/5/2018).

Adapun penyebab utama kasus pernikahan dini saat ini trennya sudah beralih, yang awalnya karena faktor kurangnya pendidikan dan kemiskinan, tetapi sekarang ini mayoritas disebabkan pergaulan bebas.

Menurutnya, pemicu terjadinya pergaulan bebas di kalangan usia dini tersebut melalui teknologi informasi yang saat ini sudah merambah hingga pelosok Kabupaten Pamekasan.

Bahkan, kata dia, parahnya lagi pengawasan dari orangtua terhadap anak yang menggunakan gawai sangat minim sehingga di usia pelajar yang tengah berkembang dan masih mencari jati diri serta mudah penasaran akan mudah mencari konten-konten negatif di internet seperti situs pornografi dan lain-lain.

“Kurangnya pengawasan dari kedua orang tua dan keluarga yang lain itu juga penyebabnya,” imbuhnya.

Padahal menurut Musyaffak, Undang-Undang baru Idealnya menikah bagi laki-laki minimal berumur 25 dan perempuan minimal berumur 21 tahun.

Dengan maraknya pernikahan dini ini pihak BKKBN sedang berupaya mendekati tokoh agama, tokoh masyarakat dan melakukan sosialisasi terhadap Pusat Informasi Konseling (PIK) yang bergerak di SMA, pesantren dan Masyarakat.

“Sosialisasi sudah saya lakukan terus menerus Semoga pernikahan dini diPamekasan menurun mas,” pungkasnya dia penuh harap.

Reporter : Zubaidi
Editor : Ist

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.