Bangkalan, (Media Madura) – Seminggu ini, Linimasa Facebookers Madura. Lagi riuh oleh video joget disko di acara imtihan. Banyak yang mengecam dan tentu menyayangkan.

Kok bisa, acara imtihan yang islami itu, diisi musik disco. Kira-kira begitu inti keluhan masyarakat yang saya amati lewat komen dan postingan yang berseliweran di laman Facebook saya.

Sebelum bahasan ini di lanjutkan, ada baiknya memahami apa itu imtihan. Simplenya, imtihan itu acara wisuda di Madrasah Diniyah. Bisanya digelar sebelum libur panjang bulan ramadhan.

Acara biasanya, diisi lomba-lomba dan pentas seni. Dan puncaknya diisi acara pengajian. Mengundang penceramah atau muballig.

Kalau sudah paham, maka jelas bahwa Imtihan dan musik disko ibarat minyak dan air tak akan bisa menyatu. Sehingga muncul ungkapan: acara pengajian kok hiburannya disko. Saya kira, inilah poin masalahnya. Sehingga ketika video beredar langsung muncul reaksi.

Tapi tunggu dulu. Tulisan ini, tidak akan membahas soal patut dan tidak patut musik disko pada acara imtihan. Saya ingin melihat masalah ini dari kacamata yang lain. Bisa dari sisi budaya, sejarahSm bahkan sisi geografis hingga fashion.

Emang ada kaitannya? Ya ada lah. Mari kita bahas satu persatu.

1. GEOGRAFIS

Sebentar ya, saya mau nyeruput kopi dulu, mumpung masih hangat. Terus ngudud barang sebatang. Agar cakrawala pikiran saya benar-benar pada posisi paling nyaman. Sehingga pendapat yang utarakan nanti, tidak malah memicu polemik baru. Santai lah.

Begini, ada dua video bocah-bocah joget disco. Pertama di Sokobanah, mereka laki-laki. Kedua. Di Batumarmar, yang joget perempuan. Sokobanah masuk wilayah Kabupaten Sampang. Batu Marmar masuk wilayah Kabupaten Pamekasan.

Meski beda kabupaten. Tapi secara geografis dua kecamatan itu masih dalam satu wilayah yaitu wilayah pantai Utara Madura atau pantura.

Saya menemukan kaitan, kenapa pentas disko itu hanya terjadi di wilayah Pantura tapi tidak terjadi pada acara imtihan di wilayah Selatan Madura misalnya.

Kaitan ini akan dibahas pada bab berikutnya yaitu yang mengulik joget disko dari sisi kesejarahan. Atau mungkin tetapnya asal muasalnya.

2. SEJARAH

Agar lebih runut, kita mulai dari mengamati dulu sisi fashion bocah-bocah yang joget disko itu.

Pertama, kita lihat gaya rambut dulu. Tiga bocah punya gaya rambut sama yaitu jambul di bagian depan. Tapi bagian belakangnya tetap gondrong. Sehingga, kalau geleng-geleng kepala, rambut berkibas-kibas dengan bebas dan lepas.

Lalu yang Kedua: fashionnya. Para bocah itu kompak memakai celana botol belel alias lecek. Dengan setelan atasan yaitu kaos kedodoran.

Saking dodornya, tali kaus dalamnya nyembul di bahu. Dan panjangnya sampai nutupi lutut. Saya curiga yang dipakai itu kaus bapak atau kakaknya.

Yang Ketiga, kita lihat gerakan jogetnya. Secara umum gerakan yang dilakukan sederhana. Melangkah zigzag ke depan dan belakang. tiap gerakan ada gaya kejut macam kesetrum.

Mereka nambah sedikit variasi yaitu gerakan tangan menggulung. Tapi inti dasar joget ini adalah posisi kaki harus jinjit. Lalu bergerak zigzag maju mundur tak beraturan. Kadang juga muter-muter.

Dari fashion dan gerakan, sudah ketahuan, para bocah itu meniru salah satu joget disco yang cukup populer di media sosial YouTube. Nama joget ini agak aneh. Training Dance, Station 10 Surabaya.

Coba tonton videonya di YouTube. Gerakannya sama dengan yang dilakukan bocah-bocah di acara imtihan itu. Termasuk gaya fashionnya. Beberapa video training dance bahkan telah ditonton hampir 1 juta orang.

Kesimpulan saya. Penamaan ini diambil dari program di salah satu radio. Jadi, ada satu radio, entah radio apa. salah satu siarannya khusus musik disco. Nonstop.

Kalau naik mobil dan nyetel radio, saya kerap menemukan satu Chanel khusus disco. Ucapan penyiarnya sulit dipahami. Yang paling saya ingat hanya kalimat “pemilik pohon duit”.

Joget ini, saya yakin dipopulerkan kawula muda pantura. Sebab, saat saya berkunjung ke pantai Lon Malang di Tlenger Sampang.

Saya banyak menjumpai anak-anak muda berpenampilan ala training dance. Rambut depan jambul, belakang gondrong. Dan kaus kedodoran sampai menutup betis.

Dari runutan sejarahnya ini, seperti saya bilang di awal tulisan. Letak geografis ada hubungannya peristiwa joget disko di acara Imtihan itu. Sebab, kejadiannya di Pantura. Yang mempopulerkan anak-anak pantura juga.

3. BUDAYA

Sebenarnya, saya merasa bab 3 ini kurang pas di juduli Budaya. Tapi, tak apalah. Karena belum ada kata yang pas.

Tapi begini, protes dan kecaman terhadap joget disco di acara imtihan itu, membangkitkan lagi ingatan saya pada peristiwa di masa kecil di tahun 1990an.

Waktu itu, bila ada anak gadis di desa saya pakai celana nyetrit. Pasti akan jadi gunjingan. Bukan hanya satu atau dua hari. Tapi sampai berbulan-bulan. Agar terus rasan-rasan ke seantero desa.

Waktu itu yang dikambinghitamkan adalah televisi. Wanita pakai celana nyetrit dianggap sebagai dampak kebanyakan nonton tipi.

Tapi sekarang, perempuan pakai celana ketat, ada dimana-mana. Tidak hanya yang muda, tapi juga yang tua. Berseliweran depan mata. Dan tak ada lagi menggunjingkannya. Sudah dianggap biasa. Sudah bukan hal yang tabu lagi.

Begitu pun joget disko di acara imtihan. Sekarang mungkin banyak yang protes dan mengecam. Lima atau sepuluh tahun lagi, mungkin akan menjadi hal biasa dan lumrah. Semoga saja tidak.

Sebab kini ada internet. Ada YouTube. Orang bebas ngapload apa saja. Internet lebih berbahaya dari televisi. Internet masuk ke ruang-ruang personal dan bisa ditonton kapan saja. Tak peduli usia.

Saya juga masih ingat, kalau ketahuan main PS, pasti dimarahi orang tua. Tapi kini, ada android. Anak-anak nge-game sesuka hati di rumah dan fasilitasnya disediakan para orang tua.

Begitulah alur kehidupan. Hal-hal yang semula tabu, bakal menjadi tidak tabu.

Penulis : Mukmin Faisal
Editor : Arif

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.