Ratusan siswa di Sampang saat takziah di kediaman alm Ahmad Budi Cahyono di Dusun Pliyang, Desa Tanggumong, Kota Sampang, Sabtu (3/2/2018) pagi. (Ryan Hariyanto/MM).

Sampang, (Media Madura) – Ahmad Budi Cahyono, kini telah tiada. Namanya terus dikenang meninggalkan kesan dimata kerabat, terutama di lingkungan pendidikan di Madura.

Ahmad Budi Cahyono atau yang cukup populer dengan sebutan nama ABC ini merupakan tokoh muda yang menginspirasi.

Budi adalah guru honorer seni rupa SMA Negeri 1 Torjun, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur.

Pada Kamis 1 Februari 2018 kemarin, hari terakhir Budi mengajar di sekolah. Dia menjadi korban penganiayaan hingga meninggal dunia yang dilakukan muridnya sendiri, berinisial HI (17).

Sosok Budi ternyata memang menggeluti dunia seni sejak kecil. Ia terlahir dari keluarga seni. Ayahnya, M Satuman Ashari juga merupakan guru honorer bidang seni rupa.

Banyak prestasi yang ditoreh semasa kecilnya. Di tahun 2000 silam, saat masih duduk di bangku SDN Tanggumong 2, Budi pernah meraih juara 1 tingkat nasional saat mengikuti lomba.

“Saat itu merupakan torehan pertama Kabupaten Sampang meraih juara nasional,” ujar Abdullah Muslim mantan Kepsek SDN Tanggumong 2 sekaligus guru mendiang Budi.

Abdullah mengakui sejak kecil muridnya itu dikenal cerdas, kreatif, sopan, dan berprestasi. Tak hanya itu, Budi Cahyono mengasah bakat seninya saat kuliah di Universitas Negeri Malang (UM). Semasa kuliah, Budi juga aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Budi lulus dari kampus tersebut di tahun 2014 dan langsung mengajar di SMA Negeri 1 Torjun. Di sanalah Budi mengabdi sebagai guru honorer seni rupa selama tiga tahun.

Sosok pria yang ahli bermain biola ini menikah dengan gadis pujaannya bernama Sianit Sinta. Perempuan berumur 22 tahun itu kini tengah hamil di usia kandungan lima bulan.

Sianit Sinta serta kedua orangtuanya, M Satuman Ashari dan Siti Khotijah, masih tidak percaya atas kejadian yang menimpa Budi Cahyono yang meninggal ditangan siswanya.

“Sebisa mungkin dapat keadilan dan pelaku dihukum seberat-beratnya, harapan ke pemerintah mohon bantuan dan sedikit perhatiannya karena almarhum guru honor,” kata istri almarhum Budi, Sianit Sinta.

Selanjutnya, di tahun 2015 Budi Cahyono bergabung di Komunitas Perupa Sampang (KPS). Dia berinisiatif menghidupkan kembali KPS setelah sebelumnya organisasi ini sempat vakum.

Masuknya Budi sebagai anggota KPS, membuat karyanya semakin produktif. Lukisan di dinding SMA Negeri 1 Torjun menjadi saksi kekreatifannya.

Meski gaji sebagai guru honorer yang diterima hanya Rp 400.000 setiap bulan, tidak menyurutkan Budi untuk terus berkarya.

Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Torjun, Amat, menyampaikan, di mata guru lainnya almarhum Budi dikenal sosok yang humoris, kreatif, dan inovatif.

Hasil karya lukisan di dinding kelas, taman sekolah, vas bunga, tempat sampah, dan lainnya, membawa nama sekolah sebagai lembaga pendidikan terhijau di Kabupaten Sampang.

“Semua ini hasil karya kreatif almarhum selama mengabdi menjadi guru seni di Torjun, hanya itu yang selalu kami kenang,” terang Amat.

Kini, Ahmad Budi Cahyono telah kembali keharibaan sang pencipta. Namun, ilmu dan karyanya tak lekang dimakan usia.

Hingga Minggu (4/2/2018) pagi pukul 09.00 WIB, kediaman almarhum Budi Cahyono, Dusun Pliyang, Desa Tanggumong, Kota Sampang, tak henti-hentinya terus didatangi para tamu yang melakukan takziah.

Sejumlah karangan bunga ucapan duka cita terlihat membanjiri halaman rumah. Diantaranya, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf, Kepala Dinas Pendidikan Sampang Moh Jupri Riyadi.

Lalu, Kepala Kanwil Kemenag Jatim Syamsul Bahri, anggota DPD RI Ahmad Nawardi, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), dan puluhan ucapan duku dari pihak-pihak swasta.

Reporter : Ryan Hariyanto
Editor : Arif

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.