Pascakasus Kematian Guru, Polisi Beri Pendidikan Karakter Terhadap Siswa di Sampang

Polisi saat memberikan pendidikan karakter di sekolah SMA Negeri 1 Torjun Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, Sabtu (3/2/2018). (Ryan Hariyanto/MM).

Sampang, (Media Madura) – Kepolisian Resor Sampang, Madura, Jawa Timur, memberikan pendidikan karakter terhadap siswa di SMA Negeri Torjun pasca tragedi meninggalnya Ahmad Budi Cahyono, guru honorer yang dianiaya siswanya berinisial HI.

Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman, melalui Kasat Binmas AKP Heri Darsono, mengatakan pendidikan karakter diberikan terhadap siswa untuk membentengi mereka dari ancaman paham kekerasan.

Hal ini sekaligus memberikan motifasi anak didik pasca kejadian pada Kamis (1/2/2018) kemarin. Pendidikan karakter dinilai bisa menjadi kunci dalam membekali generasi muda.

“Siswa agar tidak terpengaruh dalam proses belajar mengajarnya,” kata Heri disela-sela memberikan pendidikan karakter di SMA 1 Torjun, Sabtu (3/2/218) pagi.

Heri menyampaikan, pihaknya juga memperikan pemahaman terkait proses hukum Undang-Undang nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak, Undang-Undang nomor 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan anak.

Dalam undang-undang itu disebutkan penyelesaian hukum anak berumur kurang dari 12 tahun penyidik wajib dilakukan diversi. Diversi yakni pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana atau musyawarah.

“Penyidik bisa memproses tapi tidak bisa menahan, tapi kalau usia anak 14-18 tahun penyidik bisa melakukan proses dan penahanan berdasarkan undang-undang sistem peradilan anak,” tandasnya.

Seperti diketahui, penganiayaan berujung maut terhadap guru, Ahmad Budi Cahyono (26) dilakukan seorang murid SMAN 1 Torjun, HI (17) menggemparkan publik.

Peristiwa itu terjadi Kamis (1/2/2018) sekitar pukul 13.00 WIB kemarin. Korban guru seni rupa mengisi pelajaran melukis di halaman luar depan kelas XII=8.

Saat kegiatan belajar berlangsung, pelaku tak menggubris dan menggangu teman lainnya. Korban menegur pelaku agar mengerjakan tugas seperti temannya yang lain.

Namun teguran itu tetap tidak dihiraukan pelaku. Korban kemudian menggoreskan cat ke pipi pelaku.

Pelaku tidak terima dan mengeluarkan kalimat tidak sopan. Karena tidak sopan, korban memukul pelaku dengan kertas absen.

Pukulan itu ditangkis pelaku dan langsung menghantam mengenai pelipis kanan korban. Akibatnya, korban tersungkur ke tanah dan berusaha dilerai siswa lain.

Usai kejadian itu seluruh siswa masuk kelas. Di dalam kelas, pelaku sempat meminta maaf kepada korban disaksikan murid-murid yang lain. 

Setelah pelajaran usai, korban dan pelaku pulang ke rumahnya masing-masing. Korban masih sempat bercerita kepada kepala sekolah tentang kejadian pemukulan yang dilakukan muridnya. 

Setiba di rumah, korban langsung istirahat karena mengeluh pusing dan sakit kepala. Sekitar pukul 15.00, korban dibawa ke Puskesmas Jrengik, Kabupaten Sampang. Karena pihak Puskesmas tidak mampu menangani, korban kemudian dirujuk ke rumah sakit Kabupaten Sampang. Korban kembali dirujuk ke rumah sakit DR Soetomo, Surabaya.

Pihak rumah sakit kemudian menangani korban dan korban dinyatakan mengalami mati batang otak (MBO), yang menyebabkan seluruh organ tubuhnya tidak berfungsi.

Sekitar pukul 21.40, korban dinyatakan meninggal dunia. Korban kemudian langsung dibawa pulang dari RS. Dr. Soetomo Surabaya ke rumah duka di Dusun Pliyang Desa Tanggumong Kota di Sampang.

Reporter : Ryan Hariyanto
Editor : Arif

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.