Petani Garam (dok/MM)

Pamekasan, (Media Madura) – Pengamat garam asal Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur Faishal Baidawi menyebut garam lokal masih mencukupi untuk kebutuhan nasional.

Menurut Faishal, pemerintah terjebak pada opini yang tidak jelas, menganggap garam lokal tidak bisa memenuhi kebutuhan nasional, padahal kondisi di tidak seperti itu.

“Dalam opini yang berkembang garam lokal tidak mencukupi, padahal selama ini peggaraman aneka pangan, seperti pengasinan ikan, penyamakan kulit dan lain-lain menggunakan garam lokal,” katanya, Kamis (1/2/2018).

Dari opini miring yang berkembang, maka pemerintah menetapkan kebutuhan impor garam sebanya 3,7 juta ton sesuai data dari Badan Pusat Statistik (BPS), garam tersebut akan diimpor dari Australia dan India.

“Pemerintah tidak perlu melakukan impor garam, apalagi kualitas garam kita lebih bagus,” tambah Faishal.

Pria asal Kecamatan Pademawu, Pamekasan itu meyakini, garam impor kualitasnya tidak akan seperti garam lokal, bahkan ia menduga ketika garam itu dijadikan garam pengasinan ikan tidak akan cepat larut.

“Pengasin ikan kita menggunakan 1 juta 990 ton, bisa-bisa kalau menggunakan garam Australia bisa cepat larut tidak, saya yakin tidak, apalagi garam India yang kualitasnya lebih bagus garam kita,” jelas Faishal.

Sementara Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) asal Madura, Ahmad Nawardi mengatakan, pemerintah boleh saja melakukan impor garam akan tetapi dengan catatan garam lokal sudah tidak mencukupi.

“Persoalan ini perlu disikapi, harusnya pemerintah sebelum memutuskan impor garam turun langsung ke gudang garam milik rakyat dan gudang garam milik PT Garam, kalau sudah tidak ada oke-oke saja, namun kalau masih banyak ya jangan,” katanya.

Oleh karenanya, atas persoalan itu perlu perumusan kembali, mengkaji butuhan garam lokal baik untuk konsumsi maupun industri.

“Kita harus duduk bareng dengan beberapa pihak terkait termasuk kementerian KKP,” tutup Mantan Aktifis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Surabaya itu.

Reporter: Rifqi
Editor: Ahmadi

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.