Rika, salah satu korban penipuan berkedok investasi sembako yang tak lain adalah istri polisi

Sumenep , (Media Madura) – Korban penipuan dengan kedok investasi sembako yang terjadi di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur ternyata tidak hanya seorang warga biasa.

Dari informasi yang dihimpun mediamadura.com, ternyata pelaku penipuan berani menyasar Bu RT dan istri seorang polisi atau Bhayangkari di sekitar tempat tinggal pelaku.

Seperti diberitakan sebelumnya, NW (28), seorang warga Desa Pandian, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur diduga telah menipu para tetangganya dengan modus investasi.

Tidak tanggung-tanggung, berdasar pengakuan sejumlah korban, nilai uang dari para korban yang kini dibawa kabur pelaku nilainya cukup fantastis, yakni mencapai Rp 2 miliar.

Salah satu korban, Rika yang juga seorang istri polisi menuturkan, semua bermula saat dirinya didatangi pelaku dan menawarkan sembako berupa beras dan minyak goreng, namun harus melalui investasi terlebih dahulu.

“Pelaku menawarkan sembako dengan harga yang jauh lebih murah dengan yang dijual di toko. Tapi sistem order duluan atau investasi dulu baru barang dikirim setelah berapa hari kemudian,” ujanya.

Menurut Bhayangkari yang masih tetangga pelaku ini, tawaran begitu meyakinkan lantaran pertama dirinya investasi Rp 15 juta, barang berupa beras kemasan 10 kg dan 25 kg termasuk minyak goreng dia terima sesuai orderan.

“Pertamanya saya order dengan investasi Rp 15 juta dia bisa nepati mas , dengan jenis barang berupa beras Ikan Paus dan Lumba-Lumba, termasuk minyak goreng kemasan 2 liter,” ungkapnya.

Karena terbukti, akhirnya ia kembali menambah nilai investasinya sebesar Rp 35 juta, tepatnya pada bulan November. Tapi sampai akhir Desember barangnya justru tak kunjung datang.

“Bahkan sampai Januari 2018 sekarang ini barang tidak datang, dan ternyata pelaku sudah menghilang,” ujarnya sedih.

Yang juga mengaku menjadi korban penipuan modus investasi tersebut ternyata tidak hanya Rika, melainkan juga salah satu Bu RT di Desa pandian. Katanya, ia terpengaruh hingga harus merogoh kocek yang lumayan besar, sekitar Rp 50 juta lebih.

Menurut kabar, beberapa korban sudah berusaha melaporkan pelaku ke pihak berwajib, namun ditolak lantaran tak ada barang bukti seperti kwitansi dan lainnya. Namun belakangan, ada korban  lain yang mengaku memiliki kwitansi, dan rencananya akan membuat laporan ulang.

Reporter: Rosy
Editor: Zainol

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.