Korban Pencabulan Oknum Guru di Sampang Bertambah

Korban tiba di Mapolres Sampang untuk melapor dugaan kasus pencabulan dilakukan oknum guru PNS di Desa Gulbung Kecamatan Pangarengan Kabupaten Sampang, Selasa (7/11/2017). (Ryan Hariyanto/MM).

Sampang, (Media Madura) – Satu per satu korban pencabulan oknum guru di Desa Gulbung, Kecamatan Pangarengan, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, melapor ke polisi. Hasil pengembangan kasus dugaan pencabulan anak dibawah umur dilakukan MH (50), terhadap muridnya bertambah yang semula hanya satu orang kini menjadi enam orang korban.

Mereka diantaranya inisial F (15), A (15), S (15). Tiga korban lainnya belum melapor ke unit PPA Polres Sampang.

Pada Selasa (7/11/2017) pagi pukul 09.00 WIB, korban inisial A (15) mendatangi unit perlindungan perempuan dan anak (PPA) Polres Sampang untuk melapor kasus pencabulan. Ia merupakan korban kedua, setelah inisial F (15) atas perbuatan guru berstatus PNS tersebut.

Kapolres Sampang AKBP Tofik Sukendar, mengatakan pengembangan penyidikan kasus itu ditemukan korban tindak pencabulan lainnya. Korban yang sudah melapor ada tiga orang, sedangkan lainnya belum melapor ke polisi.

“Sementara ini yang sudah kita periksa satu orang korban yaitu inisial F, kebetulan sekarang ada tiga korban lagi kejadian serupa dengan pelaku yang sama melapor ke polisi,” kata Tofik saat gelar perkara di Mapolres Sampang, Selasa (7/11/2017).

Tofik menuturkan, modus pelaku melakukan pencabulan terhadap muridnya itu karena memaksa korban. Pelaku merupakan guru pengajar umum di lembaga sekolah tersebut tega melakukan hal tak senonoh dimotivasi akibat sering menonton film porno.

Dalam aksinya, lanjut Tofik, pelaku mencabuli korban ditempat berbeda. Ada di gardu halaman belakang rumah pelaku, serta di belakang rumah korban. Sebab, korban rata-rata tak lain tetangga pelaku.

“Tempat kejadian diluar sekolah yakni ada di rumah korban di Desa Gukbung Kecamatan Pangarengan, pelaku keseringan nonton film porno,” jelasnya.

Dari tangan pelaku, polisi berhasil mengamankan pakaian korban. Pelaku dijerat dengan pasal 81 subsider 82 Undang-Undang RI nomor 35 tahun 2014 junto pasal 64 ayat 1 KUHP dengan hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Reporter: Ryan Hariyanto
Editor: Zainol

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.