Penyerahan Pataka Arya Wiraraja pada Bupati Sumenep saat peringatan Hari Jadi ke 748

Ditulis oleh : Syaf Anton*

Entah siapa yang bikin konsep  peringatan Hari Jadi Sumenep ke-748 tahun ini mengambil slogan “Sumenep Spektakuler”. 

Spektakuler bisa diartikan sebagai peristiwa yang dahsyat dan luar biasa, sehingga semua mata (telinga dan hati) terpana dan terkagum-kagum.

Dalam KBBI, Spektakuler (spectacular) punya arti: /spek•ta•ku•ler/ /spéktakulér/ a menarik perhatian; mencolok mata: tidak ada hasil yang ….. dari kunjungan delegasi itu. 

Sedang dalam tesaurus Bahasa Indonesia, spektakuler menjadi dahsyat, dramatis, fantastis, hebat, impresif, luar biasa, maut, megah, mengagumkan, menggemparkan, menghebohkan, semarak, sensasional, (sinonimkata.com)

Untuk mencapai wilayah spektakuler tidaklah semudah dibayangkan, butuh “sesuatu” yang besar, keberanian, percaya diri, kreatif dan meyakinkan, apalagi ketika memasuki kebutuhan anggaran.

Saya tidak tahu berapa M yang harus ditebarkan dalam pesta rakyat yang tidak merakyat ini. Atau apakah ini yang disebut “pesta penguasa?”

Diumpamakan Sumenep sebagai pembalap motor, ia telah mampu membuat demonstrasi dengan kecepatan tinggi seraya mengangkat roda motornya sampai melayang-layang ke udara. Inilah spektakuler dan tidak ada tandingannya.

Dalam konsep kedaerahan, menurut saya (entah anda) spektakuler merupakan sebuah keberhasilan dalam memberikan pencerahan terhadap pembangunan dari semua bidang sesuai dengan kebutuhan rakyat. 

Namun tampaknya, sampai saat ini persoalan krusial masih saja menggejala di tengah masyarakat; semisal darurat agraria (sentuh K. A Dardiri Zubairi), sulitnya lapangan kerja dan pengangguran makin meningkat, ekonomi rakyat yang terjepit dan dijepit.

Para petani yang tak mampu lagi mengais tanah tegalan dan sawahnya lantaran kemarau panjang, sumbatan gorong-gorong di sejumlah jalan-jalan kota yang pastinya akan terjadi banjir bila musim hujan tiba dan persoalan lainnya yang harus segera dituntaskan.

Bila semua ini terbenahi itulah yang disebut SPEKTAKULER. 

Saya tidak tahu apa dampak dari peristiwa peringatan hari jadi ini terhadap fenomena rakyat Sumenep ke depan (kecuali setelah menjadi pengamat). 

Pembicaraan saya dengan sejumlah warga, umumnya tidak mengenal  siapa dan bagaimana ketokohan Arya Wiraraja, dan keramaian apa terjadi beberapa hari ini di kota . 

Yang mereka dengar cuma “bâdâ tatēngghun e kotta”. Tapi mereka tak mampu menyaksikannya. Itupun dari 0 sekian persen warga. Sedang penduduk di Sumenep sekarang ini 1.081.204 jiwa (terupdate.net). Kira-kira berapa yang tidak menikmati hari kelahiran wilayah tanah kelahirannya sendiri.

Kalau tidak salah ingat, peringatan hari jadi Sumenep dicetuskan oleh Bupati Soegondo (1985-1995), dan saat itu seluruh warga masyarakat ikut menikmatnya, dari wilayah  kecamatan sampai desa-desa dan kampung-kampung. 

Mereka “berpesta budaya”, dengan caranya sendiri. Ada tatengghun menarik dan tidak harus beramai-ramai mendatangi kota. Dampaknya luar biasa dan terbaca, paling tidak kecintaan warga pada daerahnya sendiri makin meningkat.

DIRGAHAYU SUMENEP !!

*Penulis adalah Budayawan asal Kabupaten Sumenep

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.