Petani tembakau

Sumenep, (Media Madura) – Sepekan terakhir ini, sudah ada dua gudang tembakau perwakilan perusahaan di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur yang dikabarkan sudah mulai melakukan pembelian tembakau rajangan.

Di Sumenep, terdapat tiga gudang besar perwakilan perusahaan yang biasa melakukan pembelian tembakau rajangan milik petani setiap tahun, yaitu PT Gudang Garam di Kecamatan Guluk-Guluk, PT Gudang Garam di Desa Patean, dan PT Wismilak.

Dua gudang yang sudah melakukan pembelian tembakau rajangan saat ini, baru PT Surya Kahuripan, yang merupakan perwakilan PT Gudang Garam Desa Patean, dan PT Gudang Garam Kecamatan Guluk-Guluk.

Harga yang dipatok oleh dua gudang tersebut sementara terbilang cukup mengembirakan, karena harga terendah dipatok Rp 28 ribu dan tembakau kualitas tertinggi dibeli Rp 50 ribu per kiloram.

Setidaknya harga tersebut tidak terlalu meleset dari harga para juragan atau bandol yang sudah jauh-jauh hari melakukan pembelian tembakau ke petani langsung.

Tetapi, apakah harga tembakau musim ini sudah mahal dan sesuai harapan petani?, simak curhatan salah seorang petani tembakau asal Dusun Berorong, Desa Lebeng Barat, Kecamatan Pasongsongan.

“Apabila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, harga tembakau tahun ini mungkin lebih baik,” kata Busairi (30) saat berbincang dengan mediamadura.com, Senin (28/8/2017).

Tetapi, sambung Busairi, jika ditanya harga saat ini sudah sesuai harapan petani atau belum, bagi petani akar rumput seperti dirinya, harga Rp 28 hingga Rp 50 ribu masih jauh dari harapan. 

“Memang kalau dari isunya seolah-olah harga tembakau sudah sangat mahal, tapi sejujurnya, dengan harga Rp 50 ribu itu kami belum merasakan untung,” tuturnya.

Bapak satu anak ini mengisahkan, hingga kini, dirinya sudah lima kali melakukan panen sejak akhir Juli lalu, dan beberapa harga sudah dirinya rasakan, mulai dari Rp 20 ribu, sampai terakhir laku Rp 45 ribu. 

“Tahukah berapa uang yang saya dapatkan, dan berapakah modal yang harus saya keluarkan dalam satu kali panen?” tanyanya. 

Petani yang sejak sudah menekuni pertanian ini pun membeberkan, bahwa sekali panen dirinya bisa mengeluar biaya sebesar Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta.

Katanya, harga sebesar itu untuk biaya seperti, ongkos pekerja sejak metik hingga menjemur, ongkos rajangan, dan biaya bahan-bahan penjaga kulaitas tenbakau seperti gula dan lainnya. 

“Bayangkan, saya harus biaya Rp 2 juta sekali panen, kemudian tembakaunya laku anggap paling mahal Rp 50 ribu dengan berat tembakau 50 kilogram, berarti saya dapat Rp 2,5 juta. Apakah Rp 500 ribu termasuk untung jika dihitung dengan biaya tanamnya?,” paparnya dengan mimik serius. 

Menurut pria lulusan S1 ini, ada banyak faktor yang membuat daun emas (sebutan tembakau) kembali berkilau layaknya kisah-kisah petani belasan tahun lalu. Diantaranya, harga yang memang belum sebanding dengan biaya produksi.

“Karena kalau saat ini kan apa-apa serba mahal dan setiap pekerjaan serba ngongkos. Berbeda dengan dulu, meski tembakau menghasilkan, budaya bantu-membantu antar saudara ataupun tetangga masih sangat kental, sehingga biaya yang harus dikeluarkan tidak terlalu membengkak,” ungkapnya.

Di samping itu, harga dari pabrikan juga tidak ikut mengimbangi. Di tengah modal petani yang membengkak untuk tetap menjaga kualitas tembakau rajangan, harga yang dipatok pabrikan masih tetap begitu. Belum lagi adanya oknum-oknun yang kerap mempermainkan tataniaga tembakau. 

“Kalau menurut saya, akan sulit sekali mengulang kejayaan petani tembakau seperti bertahun-tahun lalu, kondisinya sudah berubah, sementara regulasi dan perhatian pemerintah masih tetap menggunakan kacamata yang lama,” imbuhnya. 

Untuk itu, dia mewakili petani tembakau di wilayah itu, berharap kepada stakholder terutama pemerintah selaku pemegang kebijakan untuk lebih memberi perhatian terhadap nasib petani tembakau.

“Harus ada regulasi yang jelas untuk melindungi petani tembakau, kemudian setelah itu ada ketegasan dari pemerintah, jangan membiarkan ada mafia-mafia tembakau yang meraup untung secara ilegal yang justru membuat petani sengsara,” tutupnya. 

Reporter: Rosy
Editor: Zainol

Tinggalkan Balasan