Pamekasan, 17/8 (Media Madura) – Masyarakat kecil hingga Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur memaknai hari kemerdekaan bermacam-macam.

Seperti Supatmi (51), pedagang sayur di Pasar Larangan, Pamekasan, ia memaknai hari kemerdekaan tidak terlalu muluk-muluk. Bagi dirinya merdeka itu yang penting dagangannya laku dan pulangnya membawa uang.

“Merdeka bagi saya yang penting aman dan sejahtera bagi keluarga, utamanya dagangan laris manis,” katanya, Kamis (17/8/2017).

Perempuan yang juga jualan singkong kering itu itu, tak mau ambil pusing soal gejolak yang terjadi di negeri ini, selama dia dapat memastikan nasib keluarganya esok hari, itu sudah lebih dari cukup.

“Kebutuhan dapur terpenuhi, ada tempat berlindung. Itu sudah merdeka banget deh,” tambahnya.

Berbeda dengan Moh Elman, tokoh pemuda ini memaknai merdeka bebas dari semua gangguan penjajah, namun dari hasil kemerdekaan itu masih menyisakan kesenjangan di kalangan rakyat jelata.

“Indonesia sudah masuk pada usia tua, tapi di usia ke-72 tahun tidak menunjukan kedewasaan dalam menyipaki persoalan yang ada di Negeri ini,” ucapnya.

Diantaranya kesengjangan Ekonomi, ketidak stabilan Hukum, pendidikan saat ini ada perbedaan antara Kota besar dengan kabupaten yang terpencil, ini adalah bukti ketidakdewasaan negara kita dalam memberikan kesejahteraan bagi warganya.

“Merdeka itu pelayanan yang memuaskan pada rakyat, tarif dasar listrik turun itu baru merdeka,” tambahnya.

Ketua DPRD Pamekasan Halili

Sementara ketua DPRD Pamekasan, Halili, memaknai kemerdekaan dengan pandangan yang berbeda. Menurutnya, jika pembangunan infrastruktur di perkotaan dan pedesaan merata maka patut negeri ini dibilang merdeka.

“Merdeka itu jika pembangunan dari Sabang sampai Merauke perkotaan dan pedesaan sama, baru dikatakan merdeka, tapi berharap semua terealisasi,” katanya singkat.

Reporter: Rifqi

Tinggalkan Balasan