Pamekasan, 15/7 (Media Madura) – Kasus pembakaran seseorang yang diduga maling yang terjadi di Desa Larangan Badung, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, pada bulan Mei lalu yang sempat viral di media sosial memasuki babak baru. Polres Pamekasan telah menetapkan 1 tersangka yakni Fathor Rahman (42).

Sebelumnya penyidik juga telah memeriksa 13 saksi dalam kasus tersebut termasuk Kades Larangan Badung, Musaffak, tetapi dalam agenda pemeriksaan kades ini justru ribuan warga ikut mengantar ke Mapolres Pamekasan. Sabtu (15/07/2017) pagi.

Kepada sejumlah wartawan, Kades Larangan Badung Musaffak menuturkan, kedatangan warganya itu untuk mengantarnya karena hari ini akan dilakukan pemeriksaan dalam kasus pembakaran maling yang ditangkap oleh warga desanya.

Kapolres Pamekasan AKBP Nowo Hadi Nugroho menuturkan, dalam kasus tersebut para pelaku telah melakukan kekerasan dan penganiayaan secara bersama-sama hingga menyebabkan korban yakni Kusno Hadi (40) warga Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, meninggal dunia.

“Berdasarkan barang bukti yang ada, hari ini kita tetapkan satu orang tersangka, dan tidak menutup kemungkinan ada lagi tersangka baru,” katanya kepada sejumlah wartawan dalam rilis yang digelar di Mapolres Pamekasan.

Dikatakan, peristiwa itu bermula saat warga Desa Larangan Badung menangkap seseorang yang diduga akan melakukan pencurian di desa tersebut, dan terjadi tindakan kekerasan hingga menyebabkan korban meninggal dunia.

Peristiwa penangkapan dan tindakan kekerasan terhadap terduga maling itu direkam oleh warga dan disebarkan ke media sosial, bahkan peristiwa ini menjadi perbincangan di tingkat nasional.

“Karena itulah sehingga harus ada pelurusan dan langkah-langkah hukum untuk menindak lanjuti permasalahan tersebut,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Desa Larangan Badung Musaffak menuturkan, saat peristiwa penangkapan terjadi, ia sudah menghubungi aparat kepolisian untuk segera datang ke lokasi penangkapan terduga maling itu, karena warga berduyun-duyun berdatangan.

“Kalau saya tidak menghubungi pihak kepolisian itu namanya pembiaran. Saat itu massa terlalu banyak, saya terus menghubungi aparat alhamdulillah datang cuma gak nututi,” paparnya.

Tetapi, meskipun demikian, sebagai pelayan masyarakat ia tetap akan menjalani proses hukum yang tengah berjalan dan memberikan keterangan sesuai dengan fakta yang ada.

Musaffak juga menuturkan, dalam peristiwa itu pihaknya sudah mendatangi keluarga korban dan telah ada kesepakatan damai dan kesepakatan damai tersebut dimuat dalam surat yang ditanda tangani oleh kedua belah pihak.

Reporter : Arif
Editor : Zainol

Tinggalkan Balasan