Sumenep, 15/6 (Media Madura) – Rencana Pemerintah Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur memanfaatkan Bandara Pagerungan, Pulau/ Kecamatan Sapeken untuk penerbangan perintis tampaknya sulit terealisasi dalam waktu dekat. 

Pasalnya, proses menuju pengoperasian penerbangan perintis terbilang cukup panjang, karena selain ijin dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub), bandara juga harus diikuti dengan fasilitas yang yang memadai.

Kepala Unit Penyelenggara Bandara Kelas III Trunojoyo Sumenep, Wahyu Siswoyo menjelaskan, memang sejak beberapa waktu lalu, Pemkab berinisiatif memanfaatkan Bandara milik Kangean Energy Indonesia (KEI) itu untuk penerbangan perintis.

“Dalam masalah ini, kami hanya bertindak sebagai konsultan untuk memberikan panduan kepada pemerintah daerah,” ujar Wahyu Siswoyo, Kamis (15/6/2017).

Ketika nantinya Bandara Pagerungan diperbolehkan dimanfaatkan. Maka, pihaknya baru akan mengusulkan program penerbangan perintis dengan rute Sumenep-Sapeken pada 2018.

“Kalau ingin memanfaatkan bandara khusus sebagai bandara perintis, tentunya ada beberapa tahapan yang harus dilalui, dan itu tanggung jawab pemerintah daerah untuk menyelesaikannya,” sambungnya.

Dia mengakui, otoritas Bandara Trunojoyo dalam rencana ini sudah dilibatkan oleh Pemerintah Daerah, tetapi saat iini masih sebatas koordinasi antara pihak-pihak yang berkaitan, utamanya dengan PT. KEI selaku pemilik bandara. 

“Ya, kami berharap pemerintah daerah memperoleh izin sekaligus menyelesaikan semua tahapan agar Bandara Pagerungan bisa dimanfaatkan segara,” tandasya. 

Seperti diketahui, KEI merupakan kontraktor kontrak kerja sama (K3S) atau pengelola lapangan minyak dan gas bumi (migas) yang sebagian wilayah operasionalnya di Pulau Sapeken. 

Sementara Bandara Pegerungan selama ini hanya sebatas digunakan untuk aktifitas perusahaan tersebut, dan karena oleh pemerintah daerah dianggap mubadzir, maka muncul ide untuk memanfaatkan sebagai bandara penerbangan perintis. 

“Bandara Pagerungan memiliki panjang landasan pacu 900 meter lebih dengan lebar 30 meter. Kalau panjang dan lebarnya bandara sudah bisa dimanfaatkan pesawat perintis, tapi kalau untuk komersial masih belum memadai,” kata Kepala Disnas Pehubungan (Dishub) Sumenep beberapa waktu silam.

Penulis : Rosy
Editor : Arif

Tinggalkan Balasan