Sumenep, 5/3 (Media Madura) – Agenda Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupateb Sumenep, Madura, Jawa Timur ke Pulau Lombok sepertinya tidak akan berjalan mulus.

Pasalnya, acara “plesiran” yang dikemas dengan Bimbingan Teknis (Bimtek) untuk mempelajari wisata halal itu kini tengah menuai protes dan sorotan tajam dari sejumlah kalangan.

Salah satu yang bicara lantang adalah Badan Investigasi Tindak Pidana Korupsi (BIPTK) Madura, yang mempertanyakan dasar dari pada kegiatan tersebut.

“Kenapa harus ke Lombok gitu? yang lebih dekat kan banyak, seperti Banyuwangi yang kita tahu juga daerah paling sukses dalam promosi dan publikasi wisata,” ujar Sekjen BITPK Wliayah Madura, Wahyu, Minggu (5/3/2017).

Selain itu, dia juga mempertanyakan anggaran kegiatan itu yang terbilang lumayan besar yakni sebesar Rp 140 juta.

“Yang jelas kita telusuri sumber anggaran tersebut, jika anggaran sebesar itu ternyata tidak pernah terbahas dalam anggaran daerah. Maka, saya pastikan Lembaga kita akan terus mencari fakta-fakta,” tegasnya.

Menurut mantan aktivis PMII Surabaya ini, jika memang pemerintah daerah hendak mengelola objek wisata di Sumenep menjadi wisata halal, langkah yang tepat bukanlah pelesiran ke Lombok, melainkan membangun komunikasi yang baik dengan ulama dan ormas Islam yang ada di Sumenep.

“Pasti akan banyak muncul konsep-konsep cemerlang dari mereka, dan saya juga yakin kalau cuma teknis makanan halal dan bagaimana hotel menyiapkan peralatan ibadah, mereka juga dapat memberikan konsep yang bagus,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Disparbudpora Sumenep, Sofiyanto justru mengklaim, bahwa kegiatan tersebut sudah sesuai dengan aturan dan Peraturan Bupati (Perbup).

“Jadi semuanya sudah diatur, biaya perjalananya sekian, hotelnya dimana dan makannya dimana, sekali lagi Rp.140 juta itu sudah susuai dengan aturan yang ada,” katanya pada mediamadura.com.

Seperti diberitakan, Bimtek ke Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat itu digelar dalam rangka persiapan Sumenep Visit Year 2018, dan rencananya akan berlangsung selama 3 hari, yaitu pada tanggal 14-16 Maret 2017 dengan peserta sebanyak 30 orang, mulai dari Pokdarwis, dari Desa Wisata dan perwakilan Media.

Reporter: Rosy
Editor: Zainol

Tinggalkan Balasan