Semangka Tak Semanis Sebelum Corona

    Warung penjual semangka di Desa Pamaroh, Kecamatan Kadur, Kabupaten Pamekasan / mediamadura.com - Esa

    Pamekasan, (Media Madura) – Jika melintas di jalan Raya Desa Pamaroh, Kecamatan Kadur, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, kita akan menjumpai deretan penjual semangka di sepanjang jalan nasional akses menuju pantai utara (pantura) Pamekasan itu.

    Disepanjang jalan tersebut terdapat puluhan warung kecil yang menjual berbagai jenis dan ukuran semangka . Sebelum pandemi, aktivitas jual beli di kawasan ini sangatlah ramai. Para pembeli yang merupakan pengendara roda dua maupun roda empat, baik dari dalam kota maupun luar kota yang melintas di jalan ini silih-berganti.

    Kini ramainya aktivitas itu tidak ditemui lagi. Datangnya pandemi covid-19 membuat para pedagang semangka yang mayoritas merupakan warga sekitar sepi dan bahkan terhenti.

    Saat awal pandemi, semangka yang sudah siap dijual akhirnya dibagikan kepada saudara dan para tetangga, karena jika dibiarkan dalam waktu yang lama akan membusuk, seluruh penjual di rumah saja karena imbauan dan larangan agar tidak keluar rumah. Selain rugi, para penjual ini dipaksa bertarung dengan keadaan untuk bertahan hidup.

    “Awal corona kami gak bisa jualan. Tidak ada pemasukan. Kami rugi karena sudah kadung membeli semangka dalam jumlah banyak untuk dijual. Semangka kami beli dari luar Pamekasan. Ada yang dari Sumenep dan ada yang dari Jawa,” kata salah satu penjual semangka di kawasan ini, Horriyah (35).

    Para penjual semangka di kawasan ini rata-rata petani yang menanam semangka, tetapi karena hanya bisa panen satu kali dalam setahun, sehingga harus membeli semangka dari luar Pamekasan.

    “Sebelum corona saya bisa dapat uang sekitar Rp 600 sampai Rp 700 ribu dalam sehari. Tetapi setelah corona datang, dan kini boleh jualan lagi kami hanya dapat sekitar Rp 25 ribu dan paling banyak Rp 100 ribu,” ucapnya dengan wajah sedih.

    Horriyah sudah menurunkan harga dagangannya agar nenarik pembeli dan mau membeli di warung miliknya, tetapi strategi itu tidak berjalan dengan baik.

    “Kalau dulu (sebelum corona) yang besar ini harganya Rp 30 ribu, saya turunkan Rp 25 ribu. Yang ukuran sedang ini dulu Rp 15 ribu, sekarang Rp 10 ribu dan yang kecil ini sekarang Rp 5 ribu,” jelasnya sambil menunjuk ke semangkanya.

    Yang paling membuatnya sedih, setelah kembali perjualan akibat corona. Saat ini sudah tidak seperti sebelumnya, pengendara yang melintas hampir tidak ada yang berhenti. Warungnya sepi pengunjung.

    “Pernah dua hari tidak ada satupun orang yang membeli. Ya mungkin belum rezeki saya dan keluarga,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

    Jika semangkanya tak laku, Horriyah terpaksa pulang ke rumah dengan tangan hampa, hanya membawa rasa sedih dan pahit dari harapan menjual buah semangka yang tak laku. Tetapi ia tetap bersyukur karena ia dan keluarganya tetap diberi kesehatan dan semangat untuk terus menyambung hidup.

    “Semoga corona ini segera berakhir. Agar orang-orang bisa kembali beli semangka saya,” ucapnya dengan penuh harap.

    Sementara itu, kepala Disperindag Pamekasan Achmad Sjaifudin mengatakan, akibat pandemi covid-19 memang seluruh sektor terkena dampak, tidak hanya sektor perekonomian, tetapi bidang lainnya, tanpa terkecuali para pelaku industri kecil menengah (IKM). Termasuk aktivitas para penjual semangka di Desa Pamaroh tersebut.

    “Memang saat ini pasarnya menurun akibat pandemi. Pandemi ini membuat sendi-sendi ekonomi kita runtuh. Daya beli sangat rendah. Itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang minus,” katanya kepada media ini. Rabu (18/11/2020) pagi.

    Memang, kata Achmad, situasi tersebut tidak terlalu terasa karena adanya bantuan sosial dari pemerintah dan hal itu bersifat sementara agar warga tetap bertahan di tengah pandemi.

    “Sehingga orang untuk belanjakan uang yang terbatas itu, untuk hal-hal di luar kebutuhan pokok masih berpikir beberapa kali. Dan itu berdampak pada para petani dan penjual semangka, melon dan lainnya,” katanya.

    Dikatakan, pihaknya terus melakukan upaya untuk pemulihan ekonomi, termasuk membuka pasar yang luas. Jika sebelumnya para pedagang hanya melakukan perniagaan dengan cara konvensional maka kedepan akan dibuka pemasaran secara online.

    Ia berharap agar pandemi covid-19 ini bisa segera berakhir sehingga aktivitas perekonomian di Kabupaten Pamekasan kembali bergerak dan daya beli masyarakat kembali stabil.

    Reporter : Arif
    Editor : Zainol

    Tinggalkan Balasan

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.