Warga Pamekasan Rayakan ‘Tellasan Molod’ di Tengah Pandemi

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Duko Timur, Pamekasan berlangsung meriah dan khusyuk

Pamekasan, (Media Madura) – Warga muslim di Indonesia setiap tanggal 12 Rabiul Awal berbondong-bondong memadati masjid terdekat, termasuk di Desa Duko Timur, Larangan, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Rabu (28/10/2020) malam.

Di Desa Duko Timur, ratusan warga memperingati ‘Tellasan Molod’ atau Maulid Nabi Muhammad SAW yang merupakan warisan leluhur secara turun-temurun. Meski perayaannya di tengah pandemi Covid-19, Maulid Nabi di wilayah itu tetap meriah.

Disebut ‘Tellasan Molod’ karena warga yang datang untuk memperingati Maulid Nabi itu membawa beraneka macam makanan, seperti nasi tumpeng, kue basah, dan bermacam jenis buah-buahan.

“Ini cara kami melestarikan budaya nenek moyang kita. Kami datang kesini membawa masakan seadanya dari rumah masing-masing setiap tahun pada malam tanggal 12 Rabiul Awal,” kata Arifin, Wakil Ketua Remas Baitunnajah, Duko Timur.

Menurut Ipin sapaan akrab Arifin, ‘Tellasan Molod’ bagi warga Duko Timur sudah seperti hari raya, sehingga akan dirayakan selama satu minggu ke depan. Teknisnya, warga nantinya akan bertemu di satu titik yang sudah ditentukan. Apalagi, kegiatan macam ini sudah berlangsung setiap tahun di desanya.

“Malam ini di masjid, besok malam di musalla, terus secara bergiliran di musalla-musalla yang ada santri ngajinya,” tambah pria yang saat ini aktif di organisasi ke Pariwisataan itu.

Ipin menambahkan, kegiatan tersebut perlu dipertahankan oleh generasi muda saat ini, sebab dalam kegiatan tersebut ada nilai kesatuan atau kebersamaan.

“Dalam kegiatan maulid seperti ini tidak ada yang bisa membedakan mana orang yang kaya dan mana orang yang ekonominya menengah ke bawah,” ungkapnya.

Senada, Tokoh Agama setempat, K Mohammad Tasid mengatakan, nilai yang terkandung dalam budaya tersebut sangatlah positif. Selain, merayakan hari lahir Sang Baginda Nabi Muhammad SAW, warga juga bisa mempererat tali silaturahmi.

“Ini sangat berarti bagi warga yang ekonominya pas-pasan, artinya bisa mengingat dan atau merayakan maulid tanpa harus keluar banyak biaya. Esensinya sama, yaitu membaca sholawat barzanji,” tuturnya singkat.

Reporter: Atik
Editor: Arif

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.