Fakta di Balik Rekayasa Penangkapan Santri di Sampang Bawa Sabu

Pengasuh Ponpes Darul Amin Sumber Telor KH Abdul Malik Nawawi didampingi putranya memberikan penjelasan kepada wartawan atas insiden penangkapan santri bawa sabu, Selasa (25/8/2020) siang. (Ryan/MM).

Sampang, (Media Madura) – Pengasuh Ponpes Darul Amin Sumber Telor, Desa Pandiyangan, Kecamatan Robatal, Kabupaten Sampang, memberikan klarifikasi atas insiden penangkapan seorang santri diduga membawa narkoba jenis sabu.

Pernyataan ini sekaligus meluruskan beredarnya informasi terkait anggota polisi yang sempat disekap pihak ponpes lantaran diduga ada rekayasa dalam kasus tersebut.

Putra Pengasuh Ponpes Darul Amin Sumber Telor Mohammad Ulil Absor, membantah tegas bahwa tidak ada penyekapan kepada petugas kepolisian. Saat itu, pihak ponpes hanya mengamankan anggota polisi karena khawatir menjadi amukan massa lantaran situasi yang tidak kondusif.

“Bukan disekap, hanya mengamankan saja dibawa kesini agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, malah kami layani dengan baik suruh makan sampai disuruh sholat maghrib,” ucap Lora Mohammad Ulil Absor, Selasa (25/8/2020) siang.

Insiden ini bermula pada Senin (24/8) petang. Seorang santri bersama adiknya diamankan polisi di sebuah gardu dekat dengan pondok pesantren. Bocah yang diketahui masih berusia 9 tahun itu membawa barang yang dicurigai sabu.

Awalnya, kata Lora Ulil, adik kandung santri itu bermaksud ingin menjenguk dan mengirim kakaknya yang tengah belajar di Pondok Pesantren Darul Amin Sumber Telor.

Singkat cerita, ditengah perjalanan ia menerima telepon dari orang inisial M, agar barang yang diselipkan dibalik kopyah hitamnya diserahkan kepada seorang yang sedang duduk nongkrong di gardu dekat pondok.

Setelah diserahkan, ternyata orang yang dituju tak lain petugas kepolisian. Saat itulah kedua bocah laki-laki diamankan polisi tanpa ada pemberitahuan kepada pihak pesantren.

“Sebenarnya yang diamankan polisi ini masih anak-anak, dia tidak tahu apa-apa termasuk barang haram yang diselipkan itu, dia hanya disuruh sama M yang katanya tolong kasihkan di gardu barat sebelah pondok, sampai disana ada polisi ada juga tokoh maling, berarti semua kejadian ini rekayasa dan kriminalisasi untuk mencoreng nama baik pesantren,” tutur Lora Ulil.

Dari peristiwa tersebut memancing gemeriuh sejumlah warga, simpatisan, dan para alumni. Mereka tak terima demi menjaga nama baik lembaga serta diduga ada rekayasa dalam kasus ini.

Lantaran situasi semakin mencekam, Kapolres Sampang AKBP Abdul Hafidz bersama Bupati Slamet Junaidi pun turun tangan dilokasi kejadian untuk menenangkan massa. Keduanya berdiskusi dengan pengasuh pesantren untuk mencari solusi.

“Harapan kami mendesak agar polisi untuk menghadirkan oknum yang sengaja memberi barang narkoba serta memperbaiki kinerja pihak kepolisian,” kata Lora Ulil.

Senada juga disampaikan Pimpinan Ponpes Darul Amin Sumber Telor KH Abdul Malik Nawawi. Dirinya menyayangkan terhadap kejadian tersebut. Sebab, informasi diluaran justru berbanding balik dengan fakta kejadian. Seperti halnya terkait penyandaraan terhadap petugas polisi.

“Padahal anggota polisi hanya diamankan disini dari amukan massa, kalau tidak cepat diamankan khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan,” tegasnya.

KH Abdul Malik meminta agar aparat segera mengusut tuntas kasus tersebut baik oknum yang terlibat maupun pihak yang sengaja ingin mencoreng nama baik pesantren demi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Kasus seperti ini sudah sering terjadi di pesantren, sejak tahun 2013 lalu pernah ada orang tak dikenal masuk ke pondok mau nginep ternyata bawa bungkusan barang dicurigai sabu-sabu,” tandasnya.

Reporter : Ryan
Editor : Zainol

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.