Melihat Tradisi Tellasan Petto’ di Bangkalan Madura

*Oleh: Siti Sholiha

Setelah melewati indahnya bulan suci Ramadan, umat muslim Indonesia di berbagai daerah memiliki banyak cara dalam menyambut hari raya Idul Fitri. Selain beraneka ragam suku dan bahasa, Indonesia juga memiliki berbagai tradisi unik yang dilakukan saat Idul Fitri di setiap daerah yang berbeda. Bahkan agenda unik yang dilakukan menjadi tradisi turun-temurun, sehingga menjadi identitas suatu daerah. Salah satunya seperti tradisi Tellasan Petto’ yang dilakukan masyarakat Madura. Itu artinya, masyarakat Madura tidak hanya merasakan kemeriahan hari raya Idul Fitri di hari pertama, namun juga di hari ke 8 Syawal.

Persiapan Sebelum Tellasan Petto’

Tellasan Petto’ yang berarti lebaran hari ketujuh merupakan salah satu dari sekian banyak tradisi yang memiliki makna keislaman cukup tinggi di Madura. Tellasan Petto’ sebenarnya serupa dengan lebaran ketupat/topak dan hanya berbeda penyebutan. Beberapa hal yang ada ketika Tellasan Petto’ seperti membuat ketupat, ter-ater, silaturahmi, membagikan uang, dan juga membuat kua adun menjadi agenda yang selalu ada ketika Tellasen Petto. Sehari sebelum Tellasan Petto’ biasanya setiap keluarga di Madura menyiapkan janur untuk membuat ketupat. Lalu kegiatan membuat ketupat dilakukan seluruh anggota keluarga secara bersama-sama. Sebelum merayakan Tellasan Petto’, masyarakat Madura juga dianjurkan untuk melakukan puasa Syawal selama 6 hari berturut-turut setelah hari raya Idul Fitri. Setelah membuat ketupat selanjutnya adalah menyiapkan kua adun.

Kua adun adalah makanan wajib yang harus disediakan ketika hari raya Idul Fitri dan juga ketika Tellasan Petto’. Kua adun merupakan olahan masakan yang terbuat dari santan dan daging-dagingan, bisa berupa daging ayam atau daging sapi. Dimasak dengan berbagai rempah yang hampir serupa dengan opor. Warna kuah oranye sedikit kemerahan timbul karena efek dari cabai yang digunakan. Biasanya menu pendamping kua adun adalah soto bening Madura yang juga dibuat dari daging-dagingan.

Malam hari sebelum Tellasan Petto’, seluruh masyarakat Madura menggelar penyambutan sama seperti malam ketika Idul Fitri akan tiba. Para wanita di setiap rumah tidak berhenti memasak di dapur, demi mempersiapkan hidangan spesial untuk esok hari. Masakan yang dibuat juga lebih banyak karena setiap anggota keluarga harus ter-ater makanan ke tetangga yang lainnya. Sedangkan anak-anak sibuk bermain dan menyalakan kembang api yang dibuat sendiri seperti meriam, bunyi yang dihasilkan cukup terdengar nyaring karena memang alat yang digunakan juga dibuat sendiri. Namun, saat ini anak-anak lebih senang menyalakan kembang api yang lebih modern dan bisa didapatkan di pasar-pasar. Setiap anggota keluarga juga tidak lupa untuk menyiapkan baju baru, sarung untuk esok hari agar ketika ter-ater dan silaturahmi ke sanak saudara tetap terlihat keren dan rapih.

Hari Tellasan Petto’

Ketika orang-orang di perkotaan telah memulai aktivitasnya untuk bekerja, masyarakat Madura masih bersuka ria menyambut indahnya bulan Syawal. Di pagi hari, setelah mandi dan memakai pakaian baru, anak-anak bersemangat untuk ter-ater ke setiap rumah. Mereka akan membawa berbagai jenis makanan yang dibuat sang ibu ke rumah-rumah. Rasa semangat mereka timbul karena jika anak-anak yang ter-ater akan diberikan uang oleh tuan rumah yang mereka kunjungi. Walaupun besar nominal uang terkadang hanya dua ribu atau lima ribu rupiah, tapi mereka tetap senang dan bahagia. Dari rumah setiap anak-anak atau remaja pasti membawa nase’ petto’, yaitu nasi yang dibungkus dengan daun pisang. Untuk makanannya bisa berupa kua adun, soto, atau bisa juga ditambah masakan yang lain tergantung selera setiap anggota keluarga. Semua makanan yang akan diberikan diletakkan di sebuah wadah besar. Sambil berjalan mereka meletakkannya di atas kepala atau disebut dengan nyo’on (bahasa Madura.red).

Hal menarik lainnya ketika Tellasan Petto’ yaitu selain bersedekah dengan cara membagikan uang kepada anak-anak yang ter-ater, setiap keluarga pasti bertukar makanan satu sama lain. Jadi ketika ter-ater dan kembali ke rumah, anak-anak tidak akan membawa piring kosong. Piring selalu dikembalikan dengan keadaan terisi dan kantung pakaian mereka juga terisi dengan sedekah para tetangga.

Tellasan Petto’ di Masa Pandemi

Tradisi ini secara tidak sadar menumbuhkan sikap saling berbagi, bahkan sikap keislaman juga dikembangkan dengan cara bersedekah. Dan juga hal-hal positif lainnya yaitu silaturahmi juga diajarkan sejak dini ketika Tellasan Petto’. Ketika ter-ater pasti setiap orang akan bersalaman.

Terdapat keperacayaan yang berkembang yaitu ketika silaturahmi lalu bersalaman akan menggugurkan dosa-dosa yang telah lalu. Namun, melaksanakan Tellasan Petto’ di masa pandemi pasti akan mempengaruhi agenda kegiatan yang biasa dilakukan masyarakat Madura. Mulai dari bersalaman, ketika ter-ater akan memakai masker, silaturahmi yang biasanya sampai berlama-lama, di masa pandemi ini tidak bisa dilakukan demi menghindari penyebaran virus. Tetapi sebenarnya esensi keislaman yang didapatkan dari tradisi Tellasan Petto’ ini akan tetap terasa walaupun di tengah mewabahnya virus di Indonesia. Semoga wabah yang terjadi saat ini segera berakhir agar kita dapat melakukan aktivitas baik aktivitas keagaaman, tradisi, dan yang lainnya seperti sedia kala tanpa adanya rasa khawatir.

*Penulis adalah mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.