Oleh : Ach. Fadoli

*) Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab Semester VI, IAIN Madura.

Sebutan santri tidak asing lagi di telinga kita. Sebagaimana telah kita ketahui bersama, bahwa santri adalah seseorang yang menempuh pendidikan atau menimba ilmu di salah satu pesantren yang di pimpin langsung oleh seorang tokoh karismatik yang biasa disebut kiai. Kata santri berasal dari bahasa sanskerta yaitu Shastri atau Cantrik yang berarti seseorang yang mempelajari kitab agama, sedangkan tempat atau pemukiman yang digunakan untuk belajar kemudian disebut dengan pe-Shastri-an atau pesantren, begitu pula kiai, kiai adalah nama atau istilah untuk sesuatu yang dianggap keramat atau berpengaruh, seperti Tombak Kiai Plered merupakan sebuah pusaka milik kerajaan Mataram yang pernah digunakan oleh Dhanang Sutawijaya untuk menghadapi Arya Penangsang dalam perang tanding sehingga Dhanang Sutawijaya keluar sebagai pemenangnya dan menduduki tahta kerajaan, namun seiring perjalanan waktu, istilah kiai lebih diidentikkan dengan seorang tokoh karismatik yang menjadi pemuka agama atau pengasuh sebuah pesantren, dalam lembaran sejarah negeri tercinta ini, santri tak pernah absen memberikan kontribusinya saat negeri ini membutuhkan walaupun pada akhirnya santri tetap dipandang sebelah mata.

Makna lain dikemukakan oleh salah satu tokoh terkemuka yaitu Gus Mus yang mengatakan bahwa santri merupakan kelompok orang yang memiliki kasih sayang pada sesama manusia dan pandai bersyukur. Ia menguraikan lebih luas mengenai makna santri dalam perspektif sosial. Bahwa seseorang yang mencintai negaranya, sekaligus menghormati guru dan orang tuanya kendatipun keduanya telah tiada juga dikatakan santri. Oleh karenanya, tak jarang kita mendapati peringatatan satu hari dalam memperingati “Hari Santri” yang di tetapkan pada tanggal 22 Oktober.

Peran santri juga tidak terlepas dari peran sosok mulia yang disebut kiai. Kiai, santri dan pesantren merupakan ciri khas Islam Indonesia, mengapa tidak? Ya karena kiai dengan pesantrennya, santri dengan pengetahuan, semangat dan tekad telah eksis di bumi persada negeri nusantara, bahu membahu untuk membangun negeri bahkan mereka rela menumpahkan darahnya, menyabung nyawanya dan mengorbankan hidupnya demi tegak dan lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Di pondok pesantren, santri diharuskan mukim atau menetap selama beberapa kurun waktu yang telah ditentukan untuk mengkaji kitab-kitab klasik karya monumental dari para ulama terdahulu untuk kemudian diamalkan untuk dirinya sendiri sekaligus sebagai bekal untuk hidup di tengah-tengah masyarakat. Secara tradisi, setiap menjelang bulan Ramadan santri akan pulang ke rumah masing-masing atau yang lebih terkenal dengan istilah liburan pesantren, momentum ini biasanya digunakan oleh para santri untuk melepas rindu dengan keluarga, orang-orang tercinta atau ngaji kitab pada kyai saat bulan Ramadhan atau yang lebih populer disebut dengan istilah Ngaji Posonan.

Namun berbeda halnya dengan liburan ramadan tahun ini, akibat keadaan negeri yang kurang baik seperti saat ini karena merebaknya pandemi Covid-19 atau virus Corona, para santri tidak bisa lagi secara maksimal melaksanakan aktivitas silaturahmi dengan kerabat dan orang-orang terdekat secara maksimal, karena imbauan dari pemerintah untuk selalu menjaga jarak dengan sesama demi keselamatan bersama. Bahkan ngaji kitab pada saat bulan ramadan yang seharusnya menjadi momentum bahagia bagi para santri untuk tetap menimba ilmu dan berinteraksi dengan kyai tercinta, kini sudah tidak bisa lagi dilakukan karena semua kegiatan tempat pendidikan formal maupun nonformal di berlakukan jarka jauh dan harus dilakukan secara online dengan memanfaatkan kemajuan zaman dan kecanggihan teknologi.

Meski demikian, santri tidak boleh menyerah dan putus asa, karena masih banyak kegiatan-kegiatan positif lainnya yang dapat dilakukan untuk mengisi liburan seperti berkumpul bersama keluarga dan yang tak kalah pentingnya mengedukasi masyarakat agar tetap tenang dan kondusif dalam menghadapi keadaan ini. Ditengah keadaan seperti saat ini, santri harus bisa memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat karena santri adalah pemegang saham terbesar di negeri ini sebagaimana telah dijelaskan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia KH. Ma’ruf Amin.

Santri harus mempelajari lingkungan sekitar atau peristiwa yang sedang terjadi saat ini mengenai pandemi Corona, mempelajari berbagai ragam informasi yang berseliweran di media sosial yang terkadang saling bertentang antara satu dengan yang lainnya saling bertentangan agar masyarakat tak mengalami dilema dan kebingungan akibat rendahnya literasi mengenai informasi khususnya mengenai Covid-19 dan mudahnya orang-orang menSharing informasi sebelum menfilternya. Dengan penguatan literasi ditambah dengan wawasan akademik yang memadai santri dapat menjadi sosok kredibel untuk memberikan informasi mengenai Covid-19.

Kemudian langkah selanjutnya yang dapat dilakukan oleh para santri adalah menyampaikan dakwahnya pada khalayak masyarakat sebagai refleksi kesantriannya yang selama di pesantren telah mengkaji dan belajar Alquran, Hadis, Fiqih dan kitab-kitab klasik lainnya. Dan yang terakhir, santri harus bisa mendudukkan persoalan, bahwa wabah ini bukan semerta-merta ada tanpa campur tangan tuhan, karena adanya wabah ini merupakan musibah atau ujian dari tuhan untuk menguji hamba-hambanya.

Maka dari itu santri harus mengedukasi masyarakat untuk senantiasa melakukan ikhtiar lahir seperti menjaga kesehatan, cuci tangan secara rutin, menjaga jarak dan lain sebagainya sebagaimana telah dianjurkan oleh para ahli medis, dan disamping itu, sebagai seorang santri yang spesialisnya di bidang agama, santri juga harus menganjurkan pada masyarakat untuk selalu melakukan ikhtiar batin dengan memperbanyak membaca istighfar, istighatsah, membaca shalawat thibbil qulub, membaca qunut nazilah di setiap salat fardhu dan lain sebagainya untuk mendekatkan diri pada sang pencipta sekaligus mengetuk pintu langit agar wabah ini cepat diangkat. Pada intinya, sebagai penerus para ulama atau kyai, santri harus bisa eksis di tengah-tengah masyarakat sebagaimana para ulama atau kiai yang mendedikasikan hidupnya untuk umat selaku sebagai bentuk tanggung jawab terhadap tugas yang diembannya yaitu “pewaris para nabi” sesuai sabda nabi al-‘ulama waratsatul anbiya’. Begitulah seharusnya para santri merefleksikan dirinya di tengah-tengah masyarakat bukan malah menggunakan liburan untuk leha-leha sembari ongkang-ongkang kaki sambil main game. Wallahu A’lam.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.