Petualangan Corona

Oleh : Esa Arif AS

Sebelum virus corona menjadi semasyhur bahkan mendunia seperti saat ini, sesungguhnya ada virus sejenisnya yang lebih dulu mampu menggoncang jagad raya, sebut saja SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) dan juga MERS-Cov (Middle East respiratory syndrome coronavirus).

SARS dan MERS kelas penyebarannya memang epidemi tak setangguh Corona yang menjadi pandemi. Kedua virus seniornya sudah teridentifikasi koordinat sumbernya. SARS berasal dari kotoran kelelawar dan MERS ditransmisi dari unta di timur tengah sebelum main-main ke tubuh manusia. Tetapi anehnya Covid-19 ini belum diketahui asalnya. Meskipun begitu menurut WHO virus corona merupakan jenis virus zoonosis, yang ditularkan dari hewan ke manusia. Lalu berlanjut dari manusia ke manusia.

Entah dari mana virus ini dan dari hewan apa. Bisa juga memang dari manusia yang sengaja atau tidak disengaja. Karena manusialah sesungguhnya yang paling berbahaya. Bisa saja seperti apa yang disampaikan Al-Ghazali yang menyebutkan bahwa manusia sebagai Hayawanun Natiq, yakni mahluk yang berpikir menjadikannya sangat berbahaya. Ingatlah, seganas-ganasnya harimau dia mungkin hanya bisa membunuh satu atau dua orang dalam sekali terkam. Tetapi manusia bisa membunuh ribuan singa dalam sekali dera.

Yang pasti, petualangan Corona ini bermula dari Wuhan, China. Dan kini ia telah melanglang buana ke seluruh benua. Tak ada satupun benua yang lepas dari cengkramannya dan membuat negara-negara adikuasa menjadi tak berdaya atau mungkin justru merekalah yang menjadi dalangnya, yang nantinya menjadi pawangnya. Seperti cerita Bagong anak Semar dalam dunia wayang.

Petualangan Corona terus berlanjut hingga saat ini. Ingar-bingar wajah dunia berubah seketika. Polusi yang menghitam di langit kita dan biasa disaring paru-paru manusia lalu bersih karena manusia harus bersembunyi dan diam di rumahnya. Jalanan kota nampak tak ramai seperti biasa. Asap-asap industri banyak yang mati. Eksplorasi minyak dan gas serta pengerukan batu bara dari perut bumi juga akhirnya berjeda. Penebangan hutan mungkin juga.

Lihatlah di langit kita, pesawat yang setiap jam lalu-lalang juga sudah hilang. Foya-foya, pesta-pora, berwisata, tamasya, bahkan ke tempat-tempat sakral di dunia, manusia sudah dilarang. Dunia olah raga termasuk sepak bola-pun juga harus dihentikan. Entah sampai kapan petualangan Corona terus berjalan.

Dalam petualangannya, Corona memang tidak merusak bumi seperti yang biasa dilakukan manusia. Tetapi virus ini butuh inang untuk berkembang biak dan menyerang saluran pernafasan hingga menusia akhirnya meregang nyawa.

Karena itulah saat ini manusia sedang berperang dengan musuh yang tak terang, dia menyerang manusia hingga tumbang, meski sebagian masih bisa bertahan dalam kegetiran. Saatnya manusia dalam keseragaman langkah yakni terpisah. Karena berkumpul justru akan menjadi masalah.

Di tengah pintu-pintu kuasa di dunia sudah mulai lelah, kewalahan dan tak mampu menghadapi corona, maka saatnya manusia mengetuk pintu langit, mengemis pertolongan pada tuhan yang maha kuasa.

Setelah itu gairah haruslah tetap terjaga, yakin bahwa pendemi corona akan segera sirna. Ikhtiar tetap harus dilakukan, segala daya memang harus dicurahkan untuk bisa memutus penyebaran corona. Yang terpenting tetap tenang dalam upaya dan doa. Ingatlah pesan Ibnu Sina, “Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan”.

Dan jika saatnya nanti penyebaran virus corona sudah terhenti, maka manusia juga harus berhenti menjadi perusak bumi. Jika tidak, maka siapa virus sesungguhnya?. Atau jangan-jangan manusialah yang menjadi virus bagi bumi sementara corona adalah antivirusnya?. Entahlah!!!(*)

*) Penulis adalah direktur Media Madura. Aktif menjadi penasehat di Madura Institute dan Dosen di IAIN Madura

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.