Lunturnya Gramatika dalam Karya Jurnalistik

Oleh: Drs M. Hanafi, SH.MH.

Kita semua tau bahwa pers itu merupakan salah satu alat kontrol sosial (social control). Dan pada perinsipnya adalah alat masyarakat untuk menyampaikan keluhan dan inspirasinya untuk kepentingan masa depan masyarakat.

Apa yang saya sampaikan ini tidak bermaksud untuk mendiskreditkan seseorang apalagi terhadap profesi kewartawanan.

-Advertisement-

Pers itu adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan dan mengolah, dan menyampaikan informasi dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia. Namun karena profesi jurnalis itu yang melaksanakan adalah manusia biasa maka tidak luput dari kesalahan, baik disengaja ataupun tidak disengaja.

Kesalahan yang disengaja biasanya sebagian jurnalis mencari berita miring yang menyudutkan seseorang, apalagi kalau menyangkut objek pemberitaannya adalah orang penting, misal tokoh politik, pejabat pemerintahan, orang terkenal dll, yang apabila pemberitaan itu disiarkannya maka orang itu akan jatuh reputasinya.

Adapun kesalahan teknis pemberitaan yang tidak disengaja, pada kebanyakannya adalah salah dalam menerapkan tata bahasa (grammar) nya, sehingga pemahaman pembacanya atau pendengarannya menjadi biasa, atau pada media cetak terkadang ada kesalahan cetak, terkadang masyarakat tidak begitu peduli dengan kesalahan cetak itu, kita tau bahwa penempatan titik, koma dan huruf besar itu seharusnya dengan norma penulisan. Koma, titik dua, titik koma, tanda tanya, begitu biasa seakan-akan sudah ada sejak dulu ternyata tidak.

Dalam hal menjawab dan menyanggah kritik, kita bisa melihat apakah kritik dan sekaligus respon atasnya masuk akal atau tidak. Dan pertukaran kritik ini tentu saja penting bagi publik, khususnya para pembaca berita-berita di media, karena ia sekaligus mengajak pembaca untuk berpikir kritis. Pertukaran kritik ini bisa menjadi salah satu bentuk literasi media bagi publik. Namun ketika ancaman yang didahulukan dengan alasan ketersinggungan, pintu diskusi sebenarnya pelan-pelan sedang ditutup.

Sebagai pembaca dan penulis, kita mengenal secara intim bahasa, titik, koma, garis miring, dan berbagai tanda baca dalam bahasa tulisan.

Bahasa, Koma, titik dua, titik koma, dan teman temannya merupakan bagian tak terpisahkan dari penulisan, menunjukkan struktur gramatik, dan membantu kita mengubah tulisan menjadi bahasa lisan atau gambar.

Kita akan tersesat tanpa tanda-tanda baca itu (atau setidaknya, akan luar biasa bingung), namun nyatanya para penulis dan pembaca bisa mengatasi hal itu selama beribu tahun. Apa yang mengubah benak mereka

Ucapan “membangun peradaban itu dimulai dari titik koma”, adalah bukti kepeduliannya terhadap etos berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun, bisa jadi, itu sekaligus merupakan ungkapan keprihatinannya terhadap kondisi moral bermasyarakat di tingkat elit yang berpotensi menurunkan kualitas peradaban di negeri ini. Dalam tinjauan tata bahasa, titik adalah tanda berhenti-akhir dari sebuah kalimat-dan koma adalah tanda jeda, sebelum susunan kata-kata berikutnya pada sebuah kalimat dilanjutkan. Kedua tanda baca tersebut berperan menunjukkan struktur suatu tulisan.

Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mengiringi induk kalimat.

Contoh: Saya tidak akan datang kalau hari hujan.

Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antara kalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.

Contoh:
Oleh karena itu, kamu harus datang.

Maka menjadi penting bagi jurnalis untuk terus meningkatkan kualitasnya sehingga tulisannya dapat mengedukasi pembaca tidak hanya memberi informasi.

Apalagi dewan pers sudah mewajibkan wartawan untuk mengikuti sertifikasi berupa uji kompetensi wartawan (UKW), hal itu guna meningkatkan profesionalismenya.

*) Penulis adalah Kepala Lapas Kelas IIA Pamekasan.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.