PWI Sumenep Beri Pelatihan Jurnalistik di SMA Plus Miftahul Ulum

Pengurus PWI Sumenep saat memberikan pelatihan jurnalistik kepada siswa

Sumenep, (Media Madura) – Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMA Plus Miftahul Umum Tarate, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur menggelar pelatihan jurnalistik dasar, Senin (16/12/2019).

Kegiatan yang digelar dalam rangka Pekan Kreativitas Siswa jelang masa liburan semester 1 tahun 2019 itu menghadirkan dua anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumenep sebagai pemateri.

Ia adalah Badrur Rosi yang merupakan Kepala Biro sekaligus wartawan mediamadura.com Wilayah Semenep, dan Wahyudi, Pemimpin Redaksi (Pemred) media daring limadetik.com.

Badrur Rosi yang bertindak sebagai materi pertama menjelaskan, sederhananya jurnalistik dapat dimaknai sebagai proses penulisan dan penyebaran informasi berupa berita, feature atau opini melalui media massa.

“Jurnalistik adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Secara praktis jurnalistik adalah disiplin ilmu dan tehnik pengumpulan, penulisan dan pelaporan berita termasuk proses penyuntingan dan penyajiannya,” katanya.

Orang yang melakukan aktifitas jurnalistik kemudian disebut jurnalis atau wartawan. Sementara dalam peliputan peristiwa, wartawan biasa menggunakan rumus 5W + 1H.

“Who (siapa), What (apa), When (kapan) Where (di mana), Whay (mengapa) dan How (bagaimana). Itulah rumus sederhana ketika wartawan menggali dan menyajikan informasi,” jelasnya.

Di samping memaparkan tentang bagaimana tugas-tugas jurnalistik, Rosy-sapaan karib Badrur Rosi, juga menjelaskan tentang kedudukan pers di Indonesia. Bahwa kata dia, pers adalah pilar keempat demokrasi.

“Fungsi dan peranan pers berdasarkan ketentuan Pasal 33 UU No 40 Tahun 1999 tentang Pers, fungsi pers ialah sebagai media informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial. Lembaga pers juga sering disebut pilar keempat setelah ekskutif, legislatif dan yudukatif,” paparnya.

Oleh karena itu, lanjut Rosy, wartawan atau jurnalis memiliki tanggung jawab yang luar biasa dalam menjalankan peran dan tugasnya, yakni setiap berita yang dihasilkan harus memberikan kontribusi positif dan sesuai kode etik jurnalistik.

“Di sinilah produk jurnalistik harus faktual bukan manipulasi atau kebohongan. Informasi harus cek and ricek sebelum disajikan, karena tanggung jawab jurnalis sama besarnya dengan penyelenggara negara,” tegasnya.

Sementara Wahyudi, di depan puluhan siswa-siswi yang jadi peserta pelatihan mengatakan, saat ini tidak hanya pelajar yang wajib memahami ilmu jurnalistik secara benar, tapi juga masyarakat luas.

“Saat ini kita harus bisa membedakan antara berita produk jurnalistik atau bukan, mana berita fakta dan mana hoax. Caranya, ya kita harus mengerti ilmu jurnalistik. Sehingga kita tidak mudah percaya dan menyebarluaskan berita-berita yang didapat dari media sosial,” ucapnya.

Wahyu juga mengingatkan para peserta untuk selalu bijak dalam menggunakan media sosial. Sebab, undang-undang ITE bisa mengancam siapa saja, terutama mereka yang tidak menyaring informasi sebelum disharing.

“Saring, saring, saring baru share. Jika dulu mulutmu harumaumu, maka kini jarimu harimaumu. Salah menggunakan jari, bisa fatal akibatnya,” tandasnya.

Reporter : Rosy
Editor: Zainol

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.