Pamekasan, (Media Madura) – Nenek Amur (70) warga Dusun Jenglateh Barat, Desa Campor, Kecamatan Proppo, hidup sebatang kara di gubuk mambu yang telah lapuk dan berlubang.

Rumahnya berlantai tanah, hampir seluruh dindingnya berlubang dan tiang penyanggah gubuknya sudah banyak dimakan rayap. Atap rumahnya juga telah banyak yang bocor. Untuk makan saja, nenek Amur hanya mengandalkan pemberian tetangganya.

Kondisi Nenek Amur ini mengundang simpati publik berkat banyaknya postingan di media sosial tentang kisah sedihnya. Bahkan sejumlah pemuda yang mengatasnamakan Madura Idea Foundation (MIF) dan Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) cabang Pamekasan, ikut memberikan santunan pada nenek ini.

Direktur MIF, Ahmad Fudholi mengatakan, sumbangan itu merupakan panggilan kemanusiaan, yang diinisiasi oleh beberapa tokoh PMII Pamekasan.

“Ini bantuan sekedarnya dari IKA PMII dan Madura Idea Foundation, mohon di terima dengan senang hati,” katanya saat menemui nenek yang sudah tidak bisa melihat itu, Minggu (2/5/2019) sore.

Pria yang tercatat sebagai anggota PC IKA PMII Pamekasan itu menambahkan, bantuan itu memang nilainya tidak seberapa namun cukup untuk membantu meringankan bebannya apalagi menjelang hari raya idul Fitri. “Insya Allah cukup untuk lebaran, semoga ada rejeki lagi,” tambahnya.

Aktifis PMII Surabaya itu tergugah, berencana akan melakukan renovasi rumah berukuran 3×4 meter itu, karena kondisinya sudah reyot dan membahayakan jika tetap ditempati.

“Kita akan gandeng Banser seperti tahun kemarin, kita akan bedah rumah Nenek Amur ini, semoga ada rejeki,” tuturnya.

Saat ini Nenek Amur di rawat oleh anaknya yang sudah tidak muda lagi, Sumaerah (50). Sumaerah kadang di bantu oleh tetangga yang juga kakak iparnya Sahrama (52).

Wanita yang selalu mengucapkan rasa syukur itu sudah tidak menempati rumah berukuran 3×4 meter, dikarenakan sudah tidak layak, gentingnya banyak bocor bahkan tiang penyangga yang terbuat dari kayu itu hanya menunggu waktu ambruk. kini menempati gubuk yang juga kondisinya memprihatinkan.

Nenek Amur kesehariannya sudah tidak beraktivitas, karena sering sakit-sakitan. Hebatnya, selama bulan Ramadhan ia tetap menjalankan ibadah Puasa, meski sesekali harus buka disiang hari karena penyakit yang di deritanya.

Reporter : Ahmad Rifqi
Editor : Arf

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.