Atap bangunan Puskesmas Torjun masih berantakan pasca ambruk Minggu (20/1) kemarin, Senin (21/1/2019). (Ryan Hariyanto/MM).

Sampang, (Media Madura) – Sebagian publik mempertanyakan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sampang yang tidak berani memberikan teguran maupun sanksi terhadap pihak rekanan pelaksana atas ambruknya atap bangunan proyek Puskesmas Torjun.

Sangat jelas, insiden yang terjadi Minggu (20/1) pukul 18.00 WIB itu dipastikan karena kesalahan kontraktor yang terindikasi menyalahi prosedur kerja akibat mengurangi kualitas bangunan.

Informasi yang diterima mediamadura.com, pelaksana proyek pembangunan Puskesmas Torjun dikerjakan oleh salah satu tokoh ternama di Sampang.

Aktivis asal Kecamatan Torjun, Zainudin menuding Dinas Kesehatan sebagai pengguna anggaran terkesan hanya melindungi pelaksana kegiatan. Kendati pelaksana sudah pernah menerima putus kontrak karena melewati batas waktu pengerjaan, namun tidak menggugurkan unsur kelalaian dari kejadian tersebut.

“Kejadian ambruk itu bukan karena bencana, tapi soal kualitas yang tidak sesuai RAB atau pelaksanaannya asal-asalan, kalau memang sudah sesuai spek tidak mungkin bisa ambruk,” ucapnya, Selasa (22/1/2019).

Bisa Kena Sanksi Pidana

Pria lulusan Pascasarjana di salah satu Universitas ternama di Malang ini mengatakan, ambruknya atap bangunan sama halnya disebut kegagalan dalam pembangunan. Aturannya jelas, negara mengatur masalah Kegagalan Bangunan ini seperti tertuang dalam UU No 18 Tahun 1999 Tentang Jasa Konstruksi.

Dalam UU Konstruksi disebutkan jika terbukti ada unsur kelalaian, pengguna jasa dan penyedia jasa wajib bertanggung jawab atas kegagalan bangunan. Selain itu, pihak yang melakukan perencanaan pekerjaan konstruksi yang tidak memenuhi ketentuan keteknikan dan mengakibatkan kegagalan pekerjaan konstruksi atau kegagalan bangunan terancam sanksi pidana.

“Ancamannya pidana paling lama 5 (lima) tahun penjara atau dikenakan denda paling banyak 10 persen dari nilai kontrak, aturan itu sangat jelas,” terangnya.

Maka itu, dia menambahkan, Dinas Kesehatan Sampang harus profesional dalam hal ini, terutama memperhatikan apakah pengerjaannya sudah sesuai dengan spesifikasi teknis, maupun kualitas plafon berbahan aluminium.

Terpisah, Plt Kepala Dinas Kesehatan Sampang Asrul Sani ditemui usai meninjau lokasi ambruknya Puskesmas Torjun pada Senin (21/1) kemarin memilih irit bicara menjawab pertanyaan sejumlah wartawan.

“Masih koordinasi dengan pihak pengawas, konsultan, tekhnis, dan pihak terkait lainnya,” singkat Asrul bergegas menaiki mobil dinasnya.

Saat kembali dikonfirmasi per telepon, Asrul menyatakan pihaknya masih belum memastikan penyebab ambruknya atap bangunan Puskesmas karena masih dikaji. Sedangkan pihak pelaksana dinyatakan siap memperbaiki kerusakan.

“Pemborong berkomitmen untuk memperbaiki atap yang rusak,” ujarnya melalui pesan singkat.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Sampang Guntur Wahab mengaku dalam waktu dekat akan segera meninjau lokasi ambruknya atap Puskesmas Torjun. Disisi lain, dia menyanyangkan kejadian tersebut.

Politisi Partai Gerindra itu menilai, pengerjaan proyek Puskesmas Torjun yang dikerjakan oleh CV Yala Indah Perkasa kurang profesional.

“Kita akan turun ke lokasi biar nanti diketahui apa penyebabnya, sejak awal memang pembangunan proyek puskesmas itu bermasalah seperti putus kontrak, kalau sudah putus kontrak sangat jelas pelaksanaannya kurang profesional, mungkin karena diburu deadline sehinga mengakibatkan kualiatas kurang bagus, ini atap bahan galvalum yang dipakek kok bisa ambruk,” paparnya.

Diketahui, pembangunan proyek Puskesmas Torjun diangarkan sebesar Rp 1,7 miliar tahun anggaran 2018. Proyek dikerjakan setelah adendum sampai kontrak kerja pada 29 Desember.

Tahun 2018 kemarin, Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang mempunyai kegiatan rehabilitasi di 4 Puskesmas. Pertama, Puskesmas Torjun dengan pagu anggatan Rp 1,7 miliar. Kedua, penambahan ruang Puskesmas Robatal dianggarkan Rp 950 juta dengan pelaksana CV Seni Wacana.

Ketiga, pembangunan sarana dan prasarana fasilitas kesehatan Puskesmas Banyuanyar Kota Sampang senilai Rp 1,2 miliar dengan CV Andika Putra.

Keempat, pembangunan Puskesmas Camplong dengan total anggaran Rp 4,5 miliar dengan CV Pratama Persada.

Reporter: Ryan Hariyanti
Editor: Ahmadi

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.