Warung Kopi Disegel, Lokalisasi Luput dari Operasi

Satpol PP Sampang menyegel sebuah warung di Desa Taddan, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, Kamis (27/9/2018) pukul 17.30 WIB. (Ryan Hariyanto/MM).

Sampang, (Media Madura) – Satpol PP menyegel sebuah warung kopi yang disinyalir dijadikan tempat prostitusi di Jalan Raya Desa Taddan, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, Kamis (27/9/2018) sore.

Razia kali ini dilakukan petugas gabungan dari Satpol PP, TNI, Polri, dan Camat. Sayangnya, dalam razia tersebut hanya menyegel satu warung remang-remang disisi timur.

Sedangkan, lokalisasi yang kerap dijadikan prostitusi luput dari operasi. Padahal, keberadaannya tak jauh sekitar 50 meter dari tempat penyegelan.

- Advertisement -

“Penyegelan ini atas aduan masyarakat dan ulama terhadap kegiatan warung remang-remang yang mengarah ke prostitusi, meski tidak tertangkap tangan, tapi warung ini ditemui ada seorang perempuan,” ujar Kabid Penegakan Perda dan Ketertiban Umum Satpol PP Sampang Choirijah, Kamis (27/9/2018).

Satpol PP Sampang menyegel sebuah warung di Desa Taddan, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, Kamis (27/9/2018) pukul 17.30 WIB. (Ryan Hariyanto/MM).

Kata Choirijah, pihaknya tetap akan melakukan penertiban terhadap dugaan keberadaan prostitusi yang berada di sisi barat Desa Taddan. Sebab, dalam penertiban masih melihat lokasi karena tepat berada di reklamasi yang menjadi kewenangan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

“Saya masih koordinasi sama provinsi nanti, karena lokasi penyegelan tepat pada reklamasi, setelah ada MoU baru bisa melangkah penertiban itu,” katanya.

“Untuk pemiliknya tidak diamankan karena belum cukup bukti, apalagi saat razia tidak ada transaksi, warung keadaan tutup,” imbuhnya.

Pantauan di lapangan, saat penyegelan warung kopi yang berdiri diatas tanah pemerintahan desa tersebut mendapat penolakan dari pemiliknya. Pasalnya, warung berukuran 4×6 meter itu menjadi tempat mata pencarian keluarga.

“Saya merasa keberatan mas, ini untuk mata pencarian sehari-hari, seharusnya pemerintah jangan sewenang-wenang harus melihat kondisi dulu, yang jualan disini itu istri nomor satu saya,” terang H. Tholib (54) pemilik warung yang disegel.

Diakui H Tholib, warung yang berdiri sudah 5 tahun itu terkadang ada perempuan luar Sampang mampir ke warung miliknya. Tapi, bukan atas kehendak dirinya menampung wanita biduan seperti yang dicurigai selama ini.

“Sempat tanya ke istri kalau ada wanita asal Jember mampir ke warung, tapi sekedar beli kopi, kadang sekedar singgah kesini dan kalau malam pasti keluar kayak pertemuan dengan orang laki-laki, itu tanpa saya tahu, terus mau gimana lagi gak mungkin diusir kan,” ungkapnya dengan logat Madura.

Reporter: Ryan Hariyanto
Editor: Ahmadi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.