Marsuto Alfianto

Pamekasan, (Media Madura) – Kasus hukum terhadap anak di bawah umur seharusnya mendapatkan penanganan khusus dan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Dan tentu saja harus dilakukan dengan adil dan tidak berat sebelah.

Baru-baru ini Polres Pamekasan menangani kasus penganiayaan yang melibatkan anak di bawah umur, hingga saat ini kasus tersebut masih diproses dan belum selesai. Bahkan penyidik telah menetapkan tersangka.

Pengacara dari 3 anak di bawah umur yang saat ini telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penganiayaan ini, Marsuto Alfianto menceritakan kronologis kasus tersebut.

Pada tanggal 14 Juni 2019 lalu, tepatnya pukul 22.30 WIB, Yayan (18) warga Nyalabu Daya, Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan, dicegat dan dipukul oleh Ahmad Ilham Nur Fajar (Ilham) Warga kelurahan Bugih. Penyebabnya adalah persoalan pacaran.

Bahkan Yayan dicekik hingga mengalami luka di lehernya, selain itu kalung emasnya juga hilang.

“Setelah peristiwa pemukulan itu Yayan pulang dan memberitahukan peristiwa itu kepada temannya, dan sekitar 30 menit berselang Yayan bersama teman-temannya mendatangi lokasi kejadian untuk mencari kalung emasnya yang hilang,” kata Alfian kepada sejumlah wartawan. Minggu (22/06/2018) sore.

Saat itu, kata Alfian, Yayan datang bersama temannya yang masih di bawah umur untuk mencari kalung emasnya yang hilang. Tetapi di lokasi kejadian masih ada pelaku.

“Saat itulah Yayan bertanya kepada Ilham tentang kalung emasnya yang hilang, tetapi kembali terjadi pemukulan. Beruntung saat itu dilerai oleh warga dan ada Polisi saat itu,” urainya.

Dalam peristiwa itu, tiga anak di bawah umur yang turut menjadi korban yakni Irwan, Rio dan Roni yang saat ini sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Setelah peristiwa itu, rupanya Ilham Cs melaporkan peristiwa pemukulan itu ke Polres Pamekasan, sementara Yayan Cs melaporkan peristiwa itu pada tanggal 03 Juli 2018.

“Pihak penyidik menggunakan pasal penganiayaan berat yakni pasal 351 KUHP jo 170 terhadap klein saya yang mayoritas anak di bawah umur, sementara terhadap pihak sana malah menggunakan tindak pidana ringan yakni pasal 352 KUHP,” kata Alfian.

Anehnya lagi, kata Alfian, kliennya langsung ditetapkan sebagai tersangka sebelum ada pemeriksaan sebagai saksi. Lebih aneh ada LSM dari Sampang yang berkirim surat kepada penyidik Polres Pamekasan dengan tujuan supaya anak di bawah umur dan sejumlah orang lainnya ditetapkan sebagai tersangka.

“Sekarang anak di bawah umur yang ditetapkan sebagai tersangka ini mengalami gangguan psikologi, bahkan takut untuk sekolah,” tegasnya.

Alfian meminta agar dilakukan penanganan secara profesional dan berintegritas dan bahkan meminta rekonstruksi.

Menanggapi hal itu, Kapolres Pamekasan AKBP Teguh Wibowo menuturkan, dalam penetapan tersangka penyidik sudah mempunyai bukti yang cukup.

“Insya Allah untuk 2 alat bukti dalam rangka penetapan sebagai tersangka sudah terpenuhi,” katanya melalui pesan singkatnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Poles Pamekasan AKP Hari Siswo membantah pernyataan bahwa penetapan tersangka terhadap 3 anak usia di bawah umur tanpa ada pemeriksaan, sebeb pihaknya melakukan pemeriksaan sebelum menetapkan tersangka.

Dikatakan, pihaknya juga telah melakukan prosedur yang sesuai dalam menangani kasus hukum terhadap anak di bawah umur.

Penulis : Ist
Editor : Arif

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.