Kapolres Pamekasan, AKBP Teguh Wibowo

Pamekasan, (Media Madura) – Berawal dari sebuah group WhatsApp, hubungan kemitraan Wartawan dan Kepolisian Resor Pamekasan merenggang. Bahkan Kapolres Pamekasan sampai harus turun tangan.

Penyebab memanasnya hubungan wartawan dan kepolisian ini karena sikap admin grup WhatsApp “Mitra Polres Pamekasan” yang mengeluarkan sejumlah wartawan dari grup tersebut.

Admin grup WA ini yang merupakan anggota polisi awalnya mengeluarkan wartawan Karimara FM Suhil Qodri karena mengirim link berita anggota polisi di Pangkalpinang AKBP Yusuf yang melakukan pemukulan terhadap seorang ibu di dalam sebuah supermarket.

Dikeluarkannya wartawan senior tersebut diprotes oleh wartawan lainnya yakni Hairul Anam dan Tabri Syaifullah Munir, justru keduanya juga sama-sama dikeluarkan dari group.

Mengetahui sejumlah wartawan dikeluarkan dari grup WA, akhirnya wartawan lainnya yang tergabung dalam sejumlah organisasi merespon dan akan melakukan boikot pemberitaan Polres Pamekasan.

Di grup WA “Mitra Polres Pamekasan” ini memang beranggotakan puluhan wartawan dan sejumlah anggota Polisi, sehingga perdebatan di grup WA pascadikeluarkannya sejumlah wartawan tersebut menjadi memanas.

Mengetahui persoalan tersebut, Kapolres Pamekasan AKBP Teguh Wibowo meminta maaf kepada wartawan atas tindakan anak buahnya itu.

“Miskomunikasi. Saya sebagai Kapolres Pamekasan mohon maaf bila ada hal yang kurang berkenan. Saya berharap hubungan Polres Pamekasan dengan rekan-rekan wartawan terus terjalin dengan baik. Sekali lagi mohon maaf,” katanya.

Menanggapi hal itu, ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan Abd Aziz menyayangkan kebijakan antikritik Humas Polres Pamekasan hingga memutus kemitraan antara polisi dan wartawan Pamekasan yang selama ini tergabung dalam wadah group whatshApp “Mitra Polres Pamekasan”.

Aziz menyatakan, hal itu semestinya tidak terjadi, terlebih hampir bersamaan dengan momentum Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-72 Bhayangkara. Sehingga sangat diperlukan berbagai komitmen bersama-sama menahan diri untuk selalu menciptakan suasana aman dan kondusif.

“Sebenarnya kami sangat menyayangkan kejadian ini, namun yang pasti hal ini sudah terjadi. Sehingga kedepan kita harapkan semakin baik, sekaligus dijadikan sebagai pelajaran penting dan evaluasi agar lebih baik,” kata Aziz, Sabtu (14/7/2018).

Aziz menyatakan kebijakan memutus pola kemitraan yang dilakukan admin groups whatshApp Dedy kepada wartawan dari dua media, karena mengirim berita tentang kasus pemukulan ke group itu, sangat tidak beralasan.

Padahal, tujuan mengirim link berita itu untuk sebagai bentuk kritik membangun, agar hal serupa tidak terjadi di Pamekasan, apalagi oknum yang melakukan kekerasan adalah seorang perwira.

Kasus kekerasan yang dilakukan oknum polisi AKBP M Yusuf itu, tidak mencerminkan sebagai aparat penegak hukum. Selain itu yang ingin ditunjukkan oleh pengirim link berita itu, yakni Suhil Qodri adalah keputusan sigap Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian yang menunjukkan keseriusan dalam memberikan sanksi pada anggotanya yang terbukti bersalah.

Akan tetapi oleh staf Humas Polres Pamekasan Dedy hal itu dianggap sebagai kritik dan menghina polisi. Bagi Dedy mitra polisi tidak boleh mengkritik.

“Padahal kritik yang membangun itu sangat dibutuhkan. Dan sebagai institusi publik semestinya polres tidak kedap kritik. Kalau tidak ingin dikritik yang bekerja mandiri saja, jangan bekerja di institusi yang berhubungan dengan publik yang otomatis orang-orangnya memang berbeda dalam banyak hal,” ujarnya, menjelaskan.

Kasus memutus kemitraan oleh Humas Polres Pamekasan gara-gara wartawan melakukan kritik itu, bukan yang pertama kali. Sebelumnya seorang wartawan media online Nanang Sufianto juga mengalami hal serupa, saat yang bersangkutan menanyakan penangkapan oknum anggota polisi yang tertangkap karena kasus kepemilikan obat terlarang narkoba.

Penulis : Ist
Editor : Arif

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.