Pamekasan, (Media Madura) – Lima Perguruan Tinggi yang ada di Madura, masing-masing Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Bakti Bangsa Pamekasan, Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Universitas Islam Madura (UIM), Politeknik Negeri Madura (Poltera), dan Universitas Madura, meneken perjanjian kerja sama penguatan kelembagaan penelitian dan pengabdian masyarakat dengan Pusat Riset Kelautan Kementrian Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia.

Lima perguruan tinggi bersama Pusat Riset Kelautan Kementrian Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia, bersepakat mengadakan kerja sama dengan saling menunjang dalam pengembangan potensi sumber daya garam di Madura, sesuai dengan fungsi dan sumber daya masing-masing.

Penandatangan kerja sama yang dilakukan lima perguruan tinggi dengan pusat riset kelautan Kementrian Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia tersebut, disaksikan oleh Menteri Riset, Teknologi Dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti), Prof. H. Mohammad Nasir, dan Penjabat Bupati Pamekasan Fattah Jasin.

Penandatangan kerja sama yang dilakukan di Lembaga Riset Kelautan UPT Intalasi Pengembangan Sumber Daya Air Laut KKP RI, Desa Padelegan, Kecamatan Pademawu Pamekasan tersebut, Menurut Kepala Pusat Riset Kelautan Kementrian Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Drs. Riyanto Basuki, diharapkan mampu membantu persoalan garam Madura.

Riyanto Basuki mengapresiasi langkah perguruan tinggi Madura, yang ikut serta memerhatikan persoalan garam di Madura. Melalui penguatan kerja sama kelembagaan riset, pada bidang fokus garam.

Menteri Riset, Teknologi Dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti), Prof. H. Mohammad Nasir, juga memberikan apresiasi terhadap inisiasi untuk melakukan kerja sama kelembagaan riset fokus garam yang dilakukan Lima perguruan tinggi bersama Pusat Riset Kelautan Kementrian Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia tersebut.

Sebab menurut Nasir, selama ini produksi garam masih sangat rendah di Indonesia. Berbanding jauh dengan kebutuhan garam yang mencapai 4,4 ton pertahun. Sementara, indonesia hanya mampu memproduksi 1,2 hingga 1,6 ton pertahun. Untuk memenuhi kebutuhan garam tersebut, pemerintah harus melakukan impor garam. Jika pemerintah melakukan impor garam, maka pemeerintah rugi. Karena harus mengeluarkan biaya.

“Jika jumlah kebutuhan garam mencapai 4,4 ton pertahun. Sementara kita hanya mampu memproduksi garam 1,2 hingga 1,6. Maka pemerintah harus mengimpor 2,8 ton garam pertahun. Ini harus dicarikan solosi melalui teknologi,” ungkapnya.

Menurut Nasir, melalui teknologi diharapkan produksi garam semakin meningkat. Jika sebelum menggunakan teknologi produksi garam 130 ton Per-hektar. Maka dengan teknologi diharapkan mampu memproduksi 390 ton per-hektar.

“Mamfaat lain sisi pemamfatan teknologi produksi garam. Jika sebelum menggunakan teknologi, masa produksi 9 sampai 10 hari. Setelah menggunakan teknologi, cukup 3 sampai 4 hari. Dengan demikian, jumlah produksi garam meningkat,”pungkasnya.

Reporter : Afa
Editor : Ist

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.