Karapan sapi piala Presiden yang digelar di Stadion R Soenarto Pamekasan

Pameksan, (Media Madura) – Penerapan karapan sapi tanpa kekerasan di Madura tanpaknya masih sangat sulit untuk diwujudkan.

Buktinya, dalam beberapa perlombaan karapan sapi masih banyak terdapat Joki yang menggunakan rekeng (tongkat kecil berpaku) untuk memacu kecepatan sapinya.

“Hingga saat ini, kami masih kesulitan untuk menerapkan karapan sapi tanpa kekerasan di empat kabupaten di Madura,” terang Sekretaris Badan Perwakilan Wilayah (Bakorwil) IV Pamekasan, Moh Muhyi, Senin (4/6/2018).

Bahkan, menurut Muhyi, sapaan akrabnya, karapan sapi tanpa kekerasan mustahil diwujudkan. Utamanya, di tingkat karapan sapi Piala Presiden atau yang dikenal gubeng. Di mana, umumnya para pejoki masih menggunakan pakem lama (kekerasan).

“Umumnya, para joki ini menggunakan benda-benda tajam seperti paku lalu ditusuk-tusukkan ke bongkong sapi. Agar, sapi karapan ini bisa berlari kencang dan sampai garis finis duluan,” imbuhnya.

Dirinya menambahkan, kekerasan dalam karapan sapi sebenarnya bisa dihilangkan. Asal, si pemilik sapi ini sadar.

“Yang jadi permasalahan sekarang si pemilik sapi ini sudah terlanjur tebiasa menggunakan kekerasan pada sapi karapannya. Makanya, sangat perlu kesadaran khusus dari si pemilik ini,” pungkasnya.

Reporter: Zubaidi
Editor: Zainol

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.