Oleh : Sukma Umbara Tirta Firdaus

(Pegiat Kompolan Pojok Surau. Sehari-hari Aktif Sebagai Tenaga Pendidik Di Universitas Madura)

Islam kembali menjadi “kambing hitam”. Dalam sepekan terakhir ada insiden dimana Markas Komando Brimob di Jakarta dikuasai sekelompok Islam yang dikenal dengan sebutan “teroris”. Dalam kejadian tersebut sejumlah aparat kepolisian disandera (enam aparat gugur). Beberapa hari kemudian muncul insiden bom bunuh diri di beberapa lokasi di Surabaya, Jawa Timur, dengan sejumlah korban meninggal dunia dan luka-luka, bahkan bom bunuh diri ini terjadi di Markas Polrestabes Surabaya.

Satu kata “Ini Adalah Ujian”

Ya, saat ini Islam tengah diuji. Diuji oleh kalangan kecil (oknum) dari Islam sendiri, yang kurang valid memahami Islam. Sehingga, atas tingkah kalangan kecil tersebut, barat atau kalangan di luar Islam menuding Islam adalah teroris. Islam selalu menjadi momok bagi kaum luar Islam, terutama terkait aksi-aksi pengeboman. Bila dibiarkan, hal ini menjadi problem serius bagi perkembangan Islam dan dakwah Islam ke depan. Bila Islam diam terkait fenomena ini, dianggap mengiyakan tudingan bahwa Islam adalah teroris. Perlu ada pemahaman dan pelurusan apa makna teroris/ terorisme itu dan apa makna jihad sebenarnya. Sehingga dapat diketahui apakah aksi-aksi terorisme yang mengatasnamakan jihad, memang benar ajaran Islam atau tidak, atau hanya sekadar mengatasnamakan Islam.

Hingga saat ini Islam masih dicitrakan dan diidentikkan dengan terorisme, kebrutalan, kebencian dan kekacauan. Hal tersebut didasari dengan beberapan kejadian teror/ bom yang masih terus terjadi, khsusnya di Indonesia. Tudingan tersebut semakin diperkuat karena semua pelakunya adalah orang Islam. Karena itulah, tidak salah jika kalangan barat/ luar Islam selalu mengaitkan aktivitas terorisme dengan Islam.

Kita sebagai umat Islam harus sadar akan hal tersebut, dan itu adalah keniscayaan yang terjadi sekarang. Namun, kita juga tidak mau dicap sebagai teroris. Itu merupakan ulah dari segelintir kelompok saja yang kurang memahami makna Islam. Sebagian umat Islam memiliki faham yang tidak benar tentang ajaran Islam, misalnya tentang konsep jihad. Di antara penyebab munculnya aktivitas “terorisme” dalam Islam adalah salah faham tentang jihad.

Mari kita pahami makna Islam itu sendiri. Secara etimologis, Islam berasal dari kata salam yang berarti damai, sejahtera, selamat, tentram. Dari salam muncul kata Islam yang berarti mendamaikan, menyelamatkan, mensejahterakan, menentramkan. Kata Islam bisa juga berarti pasrah, tunduk, patuh, berserah diri dan semacamnya.

Sedangkan secara terminologis, Islam adalah agama Allah yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengajarkan pokok-pokok serta aturan-aturannya dan menugaskannya untuk menyampaikan kepada seluruh manusia agar memeluknya sebagai agama. Islam merupakan sistem akidah, syariah, dan akhlak yang mengatur hidup dan kehidupan manusia dalam berbagai hubungan (hamblum minallah dan hablum minannas), agar manusia memperoleh kedamaian baik di dunia dan akhirat.

Sedangkan karakter Islam itu sendiri antara lain: 1) Islam Agama Rabbaniah (Ketuhanan); 2) Islam Agama Insaniyah (Kemanusiaan); 3) Islam Agama Syumuliah (Universal/ Rahmatan lil alamin); 4) Islam Agama Waqi’iyah (Kontekstual); 5) Islam Agama Wasathiyah (Moderat); dan 6) Islam Agama Aqliyah (Rasional).

Sebagaimana dalam al-Quran dinyatakan, “Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. Al-Anbiya’: 107). Di ayat lainnya dinyatakan, “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Saba’: 28). Dari dua Firman Allah di atas, tersimpulkan bahwa Nabi Muhammad dan Islam datang benar-benar untuk membawa rahmat di alam semesta ini. Mustahil bila Islam itu mengajarkan sesuatu yang keras dan tindakan brutal.

Selain itu, kita lihat juga beberapa hadis Nabi Muhammad, diantaranya; Rasulullah Saw bersabda, “Hai Aisyah, sesungguhnya Allah maha kasih sayang dan senang kepada kasih sayang, dan Dia memberi (kebaikan) pada kasih sayang itu apa-apa yang tidak dia berikan kepada kekerasan, dan tidak pula dia berikan kepada apapun selainnya” (HR. Muslim). Hadis lainnya, “Kejahatan dan perbuatan jahat, keduanya sama sekali bukan ajaran Islam. Dan orang yang paling baik Islamnya ialah yang paling baik akhlaqnya” (HR. Ahmad).

Dengan demikian, sudah jelas bahwa aksi-aksi terorisme yang terjadi, yang identik menggunakan kekerasan, kekejaman serta kebrutalan dan cara-cara lain untuk menimbulkan rasa takut dan ngeri pada manusia, demi mencapai tujuan tertentu, jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Islam sendiri pada dasarnya bertujuan untuk menuntun manusia dalam mencapai kebahagiaan hidupnya dengan dilandasi rasa kasih sayang hanya semata-mata mengharap rido Allah Swt.

Terkait makna jihad itu sendiri, secara harfiah berasal dari Bahasa Arab jahada – yajhadu – juhdan – jihad yang berarti berjuang, bersungguh-sungguh, memberikan yang terbaik, mengerahkan tenaga untuk mencapai tujuan. Secara istilah jihad berarti melakukan yang terbaik untuk menegakkan hukum Allah, membangun dan menyebarkannya (M. Hanif Hassan, 2007). Jihad dalam Islam disebut jihad fi sabilillah (jihad di jalan Allah).

Secara sekilas jihad ini memang identik dengan perang atau peperangan. Namun demikian, sebenarnya jihad tidak hanya dalam bentuk perang secara fisik, tetapi juga non fisik. Segala usaha untuk menegakkan kalimat Allah (ajaran Islam/ dakwah), secara umum disebut jihad. Mendakwahkan Islam melalui berbagai kesempatan bisa disebut jihad. Maka, jihad tidak melulu perang. Perbuatan sederhanapun bisa dikategorikan jihad.

Pemahaman jihad bagi sebagian kecil kalangang Islam masih kurang lengkap. Mereka (terutama pelaku terorisme) hanya mengartikan jihad itu berperang dan berkorban dengan mengorbankan jiwa untuk memerangi semua orang non-Islam. Sehingga mereka kapan saja siap menghabisi kaum non-Islam meskipun tanpa sebab. Padahal Islam tidak demikian. Islam itu damai, sebagaimana dibawa Rasulullah dulu. Di zaman Rasul, umat Islam hidup damai bersama kaum non-Islam, bahkan Rasul bersahabat dengan kaum non-Islam dalam hal berbicara kebangsaan dan kehidupan sosial. Rasul hanya berjihad kepada kaum non-Islam yang memerangi Islam. Itupun (pertikaian tersebut) penyelesaiannya diawali dengan perundingan terlebih dahulu. Perang atau jihad merupakan solusi paling akhir.

Karena itu, berhentilah kita latah menyimpulkan setiap ledakan bom itu adalah aksi terorisme yang berjihad di jalan Allah. Rasanya kesimpulan tersebut kurang adil bila diterima kaum Islam mayoritas yang hidup di Negara Indonesia ini. Bila ledakan bom itu adalah aksi teror, memang benar. Namun jangan terus diberi embel-embel Islam, jihad, syahid dan lain sebagainnya. Karena Islam yang hakiki bukanlah yang demikian.

Di momentum Bulan Ramadhan kali ini (1439 H), mari kita propagandakan Islam ini adalah Islam yang sebenarnya kepada para jamaah/ masyarakat, di lingkungan masjid, musolla dan langgar sekitar kita. Islam yang damai, bukan Islam yang horor dan ekstrim. Propagandakan pula hal tersebut oleh para ulama ketika berceramah/ kultum Ramadhan lebih-lebih ketika menggunakan pengeras suara. Agar ketika kaum non-Islam yang mendengar di luar majlis tersebut, juga ikut paham bahwa Islam yang sebenarnya tidak seperti teroris yang ada di televisi, radio, koran, dan media-media lainnya. (*)

# Islam Not Terrorist
# Islam Rahmatan Lil Alamin.

Tinggalkan Balasan