Sampang, (Media Madura) – Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bapelitbangda) Sampang Tony Moerdiwanto, mengatakan bahwa Kabupaten Sampang belum bebas dari status daerah tertinggal.

“Iya, sejak dulu dan sampai sekarang Sampang masih daerah tertinggal,” ujar Tony dibalik telepon.

Untuk menyelesaikan masalah tersebut pemerintah terus berupaya mengebut indikator pencapaian kinerja yang telah direncanakan termasuk membuat berbagai kebijakan strategis.

Salah satu contohnya terkait optimalisasi potensi wisata. Mengingat, Kabupaten Sampang ditunjuk Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk Sekretariat Pariwisata di wilayah utara Pulau Madura.

Melalui pengembangan potensi wisata, Tony menyakini membuat desa-desa sebelumnya kategori tertinggal mampu memperbaiki perekonomian warga serta dapat secara perlahan merubah status Kabupaten Sampang dari predikat tertinggal.

“Dengan memanfaatkan peluang potensi pariwisata ini paling tidak peluang Multiplier effect yang tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi di Sampang, nanti yang mengelola bukan pemerintah yaitu BUMDes, kalau hanya pemerintah tidak akan selesai-selesai cuma gitu saja pariwisata,” tuturnya.

Kata Tony, butuh waktu maksimal tiga tahun mendatang, Kabupaten Sampang ditargetkan sudah terentaskan statusnya dari daerah tertinggal menjadi daerah maju.

“Jangan sampai menunggu puluhan tahun, targetnya butuh waktu 2-3 tahun mendatang pasti bisa Sampang keluar dari status daerah tertinggal, maka itu mulai saat ini dan tahun 2019 sudah digenjot dan disusun holistik, saya fungsikan semua bidang di Bapelitbangda ini untuk mengontrol kinerja OPD dari sisi program dan kegiatan yang prioritas,” jelasnya.

Tak hanya itu, selama ini yang menjadi kendala Kabupaten Sampang masih betah sebagai daerah tertinggal diantaranya indikator angka kemiskinan, IPM, pertumbuhan ekonomi, fasilitas pendidikan dan kesehatan, maupun infrastruktur.

“Ini yang juga kita harus merubah yakni mindset setiap pejabat atau pimpinan OPD itu bagaimana berpikir dengan cara holistik, integratif, jangan hanya berorientasi mencari proyek tapi bagaimana proyek bermanfaat, programnya harus menyentuh dan dibutuhkan masyarakat,” ungkapnya.

Tony menambahkan, sebenarnya Kabupaten Sampang hampir sukses dan keluar dari status daerah tertinggal atas gebrakan semasa dipimpin bupati Noer Tjahya.

Kini, harapan itu kandas setelah pucuk pimpinan digantikan Al Falah (alm A Fannan Hasib-Fadhilah Budiono).

Dirinya berharap, siapapun bupati terpilih hasil Pilkada Sampang 2018 bisa merubah daerah Sampang lebih maksimal. Karena sebagai pemimpin daerah butuh yang tegas, lugas, dan visioner.

“Semua itu akan mempengarahui kemajuan daerah, karena apapun yang menentukan maju dan tidaknya potensi suatu daerah tergantung kebijakan pimpinan,” pungkasnya.

Reporter : Ryan Hariyanto
Editor : Ist

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.