Sumenep, (Media Madura) – Sejak dicabutnya subsidi listrik serta adanya penyesuaian tarif oleh pemerintah beberapa waktu lalu, banyak pelanggan di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur mengeluh. 

Pasalnya, tagihan listrik khususnya yang prabayar membengkak hingga beberapa kali lipat, dan ironisnya itu masih dialami oleh pelanggan yang secara ekonomi tergolong keluarga miskin. Entah itu pelanggan dengan daya 450 VA maupun 900 VA.

“Bagi pelanggan yang subsidinya dicabut, tapi dia memang miskin, maka ia masih dapat mengajujan tarif listrik bersubsidi,” kata Manager PLN Rayon Sumenep, Rudi Hartono beberapa hari lalu. 

Rudi menjelaskan, pertama-tama pelanggan harus menyampaikan pengaduan ke Kantor Desa atau Kantor Kelurahan Setempat dengan mengisi Formulir Permintaan Subsidi Listrik.

Selanjutnya Pemerintah Desa akan melanjutkan ke Kecamatan, lalu dari Kecamatan ke Dinas Sosial (Dinsos) dan dari Dinsos diajukan lagi ke Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K). 

“Nah, dari TNP2K itu langsung nge-link ke kami (PLN), dan tarifnya otomatis berubah murah atau bersubsidi,” jelasnya.

Rudi tidak menampik jika pencabutan subsidi atau penyesuaian tarif listrik sangat berpengaruh signifikan terhadap tarif lustrik pelanggan. Dari itu, dia menyarankan, jika memang ada masyarakat miskin yang subsidinya dicabut agar mengajukan melalui Kades. 

“Ya dibantu lah, agar pelanggan mengadu ke Kepala Desa. Karena memang mahal lho, dari awalnya Rp. 100 ribu bisa menjadi Rp. 400 ribu sebulan,” tandasnya. 

Perbedaan tarif golongan pelanggan bersubsidi dan non subsudi memang cukup besar, golongan rumah tangga daya 900 Volt Amper (VA) misalnya, yang bersubdisi hanya Rp 586 per kilo Watt hour (kWh) sedangkan yang non subsidi sebesar Rp 1.352 per kwh. 

Reporter : Rosy
Editor : Ist

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.