Ilustrasi, Foto : google

Bangkalan, (Media Madura) – Perkenalan saya dengan Lutfi lebih setahun. Tapi baru kemarin, saya bisa memenuhi ajakan agar main-main d ke rumahnya. Ajakan itu, hampir selalu ia lontarkan tiap kali kami bertemu di tempat ngopi.

“Ayolah ke rumah, akan saya masukkan ikan koncel,” kata Lutfi, tiap kali kami bertemu di tongkrongan.

Lutfi bertubuh mungil, lulusan sebuah universitas di Jogjakarta. Setelah jadi sarjana, dia pulang kampung ngurus madrasah Diniyah Raudlatul Athfal di rumahnya. Rambutnya tampak mulai memutih dipenuhi uban.

Ia kini dipercaya jadi Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kampak. Semacam DPRD tingkat desa yang tugasnya mengawasi kinerja kepala desa.

Di Kampak, Lutfi bermukim di Kampung Sumber Tancak. Rumahnya satu pekarangan dengan madrasah. Rumahnya dua lantai, lantai dasar di jadikan kelas. Lutfi tinggal di lantai atas.

Lutfi minta saya datang saat jam lapar. Saya penuhi, berkunjung saat jam makan siang dan perut saya setting ‘lapar banget’. Niatannya, ingin merasakan betul nikmatnya ikan koncel yang selalu digembar-gemborkan Lutfi.

Setengah jam mengobrol, hidangan koncel buatan istri Lutfi tersaji dan siap dilahap. Melihat ikan goreng bumbu di piring, saya baru ‘ngeh’ koncel yang dimaksud adalah ikan gabus.

“Ikan koncel ini obat, wanita yang baru melahirkan, pasti banyak mengonsumsi koncel agar bekas lukanya cepat sembuh,” kata Lutfi.

Makan siang menu koncel terasa makin nikmat karena ada cerita heroik orang-orang desa Kampak menjaga kelestarian alam dan lingkungan.

Desa Kampak masuk wilayah Kecamatan Geger. Ada 13 dusun di sana dengan jumlah penduduk sekitar 10 ribu jiwa. Tiap dusun di lintasi anak sungai. Bisa dibilang, Kampak desa yang kelilingi sungai.

Di sungai itulah, Lutfi kerap nyetrum ikan. Ikan paling banyak adalah koncel dan mujaer. Koncel paling diburu karena nilai jualnya di pasar mahal. Mencapai 80 ribu perkilogram. “Seminggu, saya pernah dapat uang 1,6 juta dari menangkap koncel,” tutur Lutfi.

Bagaimana koncel bisa begitu melimpah di Sungai Kampak? Ternyata, para sesepuh desa bersepakat bikin aturan yang melarang warga menangkap ikan pakai potasium.

Bila ketahuan ada pakai potas, kepala dusunnya dikenai sanksi yaitu potong gaji. Gaji yang dipotong untuk dibelikan bibit ikan yang kemudian akan disebar bebaskan ke sungai Kampak.

“Kalau tak dibuatkan aturan, ikan koncel di sungai tak bisa berkembang biak, habis dipotas sama orang,” ungkap Lutfi.

Penulis : Mukmin Faisal
Editor : Ist

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.