Mahasiswa demonstrasi mengenakan pakaian pocong di depan kantor Pemkab Sumenep

Sumenep, (Media Madura) – Dua tahun masa kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Sumenep A Busyro Karim-Achmad Fauzi berjalan, selama itu pula sejumlah program telah dijalankan. 

Namun, dari program yang sudah dijalankan, sembilan program janji politik yang disampaikan pada masyarakat sebelum jadi bupati dianggap omong kosong.

Bahkan jargon “Menata Kota Membangun Desa” kini hanya dianggap sebagai formalitas politik saja tanpa adanya bentuk nyata dari apa yang menjadi janji politik tersebut.

Hal itu disampaikan 9 mahasiswa yang melakukan aksi demontrasi unik dengan menggunakan pakaian pocong di depan kartor Pemerintah Kabupaten Sumenep, Kamis (5/4/2018).

Kordinator Lapangan (Korlap), Edy Mufti Che menyatakan, bahwa kinerja Busyro-Fauzi selama 2 tahun berjalan tidak maksimal dalam merealisasikan 9 program janji politik yang disampaikan sebelum menjabat.

“Selama ini tidak ada wujud yang kongkrit dari apa yang dijanjikan, hal tersebut terlihat jelas di lapangan. Untuk itu, akan kami ingatkan pemerintah,” katanya.

Edy meminta, Bupati selaku pemangku kebijajakan tidak setengah-setengah dalam merealisasikan program, harus memiliki taget dan hasil yang jelas, agar program tersebut dapat diukur oleh publik. 

“Memang ada program yang sudah berjalan akan tetapi hal itu tidaklah maksimal, karena kita tahu masih ada semacam polemik dalam realisasi program tersebut,” imbuhnya.

Menurutnya, bukti nyata tidak maksimalnya kinerja Bupati-Wakil Bupati diantaranya, adanya sebuah kecemburuan pihak ketiga dalam pelaksanaan program mencetak 5000 wirausaha muda di Kabupaten Sumenep.

Selain itu, program percepatan pembangunan Infrastruktur di kepulauan dan di daratan selama ini masih jauh dari harapan. Lalu program penataan pasar tradisional agar tidak terkesan kumuh dan terlihat menarik justru tidak berjalan dengan semestinya.

“Seperti yang kita ketahui di Pasar Anom dan juga pasar-pasar yang di kecamatan mayoritas masih terkesan kumuh dan tidak menarik, lalu mana janjinya yang katanya akan merivitalisasi pasar?,” tegasnya.

Oleh karena itu, mahasiswa meminta Bupati dan Wakil Bupati kedepan agar benar – benar memanfaatkan perannya sebagai pemangku kebijakan. Sehingga dari sekian program yang dicanangkan berjalan dengan maksimal.

Namun sayang, harapan mereka bertemu Bupati atau Wakil Bupati langsung tidak berhasil, bahkan selama aksi berlangsung tidak ada satupun perwakilan pemerintah yang menumuinya, hingga akhirnya mereka bubar dengan berjalan mundur sebagai bentuk kekecewaan mereka terhadap Pemerintah Kabupaten Sumenep.

Reporter: Rosy
Editor: Ahmadi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.