Pamekasan (Media Madura) – Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Pamekasan Badrut Tamam – Raja’e (Berbaur) memanfaatkan momentum pilkada serentak 2018, untuk membantu masyarakat di wilayah itu, mempromosikan batik dengan menggunakan baju batik sebagai baju seragam pasangan calon.

“Saya sengaja memanfaatkan momentum ini, karena pasangan calon seperti saya pasti akan menjadi sorotan media. Sehingga batik Pamekasan yang saya gunakan ini, otomatis juga akan menjadi sorotan media,” ujar Calon Bupati Pamekasan Badrut Tamam dalam keterangan persnya yang disampaikan kepada media di Pamekasan, Minggu (11/3/2018)

Badrut Tamam merupakan satu dari dua pasangan Calon Bupati Pamekasan yang akan maju untuk memperebutkan dukungan masyarakat pada pilkada yang akan digelar 27 JUni 2018.

Calon Bupati Pamekasan yang berpasangan dengan Raja’e asal Desa Bujur Barat, Kecamatan Batumarmar, Pamekasan ini sengaja menggunakan seragam batik karena beberapa pertimbangan.

Selain batik yang digunakan memang merupakan hasil kerajinan warga Pamekasan, penjualan batik dalam beberapa dua tahun terakhir ini cenderung menurun. “Dan dengan berseragam batik ini, saya juga bermaksud ingin mengajak semua elemen masyarakat untuk mencintai hasil karya masyarakat lokal, Pamekasan,” ujar Badrut Tamam.

Selain itu, sambung mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur itu, dengan menggunakan seragam batik, berarti juga berupaya menghapus identitas warga partai yang mengusungnya.

Tidak ada warna dominan yang sesuai dengan warga partai, baik Partai Kebangkitan Bangsa, PAN, PKS dan Gerindra yang menjadi partai pengusung. “Yang ada adalah batik, dan batik itu merupakan kerajinan rakyat Pamekasan dan perlu kita bantu agar lebih maju dan berkembang, sekaligus membantu mengkampanyekan gerakan cinta batik,” ujar Badrut Tamam.

Badrut menjelaskan, melalui kampanye gerakan cinta batik, dirinya dan pengurus partai pengusung tak ingin lagi menonjolkan “politik identitas” akan tetapi gerakan politik yang mengedepankan pemberdayaan ekonomi umat dan gerakan cinta produk lokal.

“Jadi, kami ingin masyarakat pelaku usaha mikro di Pamekasan bisa merasakan manfaat yang sebesar-besarkan melalui momentuk pilkada ini,” katanya, menambahkan.

Apalagi, sambung dia, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) telah mengakui bahwa batik sebagai ikon budaya Indonesia untuk dunia. Bahkan, Pemkab Pamekasan telah mendeklarasikan sebagai kota batik.

Sebelumnya, pada 24 Juli 2009 lalu, Pemkab Pamekasan membuat terobosan dengan mencanangkan kota tersebut sebagai kota batik yang ditandai dengan kegiatan “Pamekasan Membatik” yang digelar di sekitar monumen Arek Lancor.

Kegiatan membatik yang masuk dalam catatan Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) tersebut diikuti 600 pembatik, dengan panjang kain yang dibatik 1.530 meter, angka sesuai dengan hari jadi Kabupaten Pamekasan kala itu. Kegiatan ini, juga sebagai bentuk dukungan atas rencana pemerintah pemerintah kala itu, yang ingin menjadikan pada 2 November sebagai “Hari Batik Nasional”.

Pasangan Calon Bupati Pamekasan Badrut Tamam dan Raja’e (Berbaur) ini merupakan satu dari dua pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Pamekasan yang akan bersaing pada pilkada yang akan digelar 27 Juni 2018.

Pasangan calon berikutnya ialah Kholilurrahman dan Fathor Rohman (Kholifah). Pasangan ini didukung oleh empat partai politik, yakni PPP, Golkar, Nasdem, dan Partai Demokrat.

Hanya saja, seragam pasangan calon yang digunakan bukan baju batik total sebagaimana pasangan “Berbaur”, tapi pasangan ini juga berjanji siap untuk meningkatkan penjualan batik warga Pamekasan.

Penulis : Ist
Editor : Ahmadi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.