Pelaku investasi bodong (tengah/baju warna pink) saat dimediasi dengan para korban

Sumenep, (Media Madura) – Kasus investasi bodong dengan modus jual beli sembako di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur dengan puluhan koban dan omset miliaran rumah mulai menemui titik terang.

Terbaru, pelaku dugaan penipuan, Nia Ekawati (28), warga Desa Pandian, Jalan Teuku Umar gang III dipertemukan dengan puluhan korban di Mapolres setempat, Kamis (1/3/2018).

Dalam mediasi antara pelaku dan puluhan korban itu dihadiri oleh Kapolsek Kota Sumenep, AKP Widiarti dan Kasat Reskrim Polres Sumenep serta Kades Pandian, Budianto.

Diruang mediasi, para korban bersikukuh agar pelaku mengembalikan uang yang disetor para korban. Sebab, uang yang telah disetor ke pelaku cukup besar, yakni antara Rp 30 juta hingga ratusan juta per korban.

“Yang jelas kami tetap meminta agar uang yang disetor itu dikembalikan. Uang yang kami serahkan ke pelaku itu tidak sedikit, puluhan juta per orang,” kata Indah Dwi, salah satu korban yang ikut mediasi.

Mediasi sendiri terjadi setelah keluarga pelaku dipaksa menghadirkan pelaku setelah sempat kabur. Namun, keluarga pelaku malah mengaku tidak mengetahui apa yang dilakukan pelaku.

“Kami tidak tahu apa-apa dalam persoalan ini. Saat ditanya, sembako yang dijual itu didapatkan dari Malang,” aku suami pelaku, Hadi Sutrisno kepada para korban

Walau demikian, pelaku berjanji akan membayar uang yang telah diterima dari para korban, meski dengan cara mencicilnya. Bahkan, pelaku mengaku akan bekerja keluar negeri untuk melunasi uang tersebut. 

“Saya akan mengganti. Saya akan bekerja keluar negeri sebagai tenaga kerja,” ujar Nia singkat.

Seperti diberitakan sebelumnya, Nia diduga telah menipu para tetangganya dengan modus investasi. Tidak tanggung-tanggung, berdasar pengakuan sejumlah korban, nilai uang dari para korban yang kini dibawa kabur pelaku nilainya cukup fantastis, yakni mencapai Rp 2 miliar.

Salah satu korban, Rika yang juga seorang istri polisi menuturkan, semua bermula saat dirinya didatangi pelaku dan menawarkan sembako berupa beras dan minyak goreng, namun harus melalui investasi terlebih dahulu.

“Pelaku menawarkan sembako dengan harga yang jauh lebih murah dengan yang dijual di toko. Tapi sistem order duluan atau investasi dulu baru barang dikirim setelah berapa hari kemudian,” ujanya.

Menurut Bhayangkari yang masih tetangga pelaku ini, tawaran begitu meyakinkan lantaran pertama dirinya investasi Rp 15 juta, barang berupa beras kemasan 10 kg dan 25 kg termasuk minyak goreng dia terima sesuai orderan.

“Pertamanya saya order dengan investasi Rp 15 juta dia bisa nepati mas , dengan jenis barang berupa beras Ikan Paus dan Lumba-lumba, termasuk minyak goreng kemasan 2 liter,” ungkapnya.

Karena terbukti, akhirnya ia kembali menambah nilai investasinya sebesar Rp 35 juta, tepatnya pada bulan November. Tapi sampai akhir Desember barangnya justru tak kunjung datang.

“Bahkan sampai Januari 2018 sekarang ini barang tidak datang, dan ternyata pelaku sudah menghilang,” ujarnya sedih.

Yang juga mengaku menjadi korban penipuan modus investasi tersebut ternyata tidak hanya Rika, melainkan juga salah satu Bu RT di Desa Pandian. Katanya, ia terpengaruh hingga harus merogoh kocek yang lumayan besar, sekitar Rp 50 juta lebih.

Reporter: Rosy
Editor: Ahmadi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.