Sumenep, (Media Madura) – Istilah banjir sepertinya mulai akrab di telinga sebagian besar masyarakat Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur sejak beberapa bulan terakhir ini.

Bukan tanpa sebab, karena memang faktanya akhir-akhir ini banjir kerap melanda wilayah jantung kota Kabupaten yan berada di paling ujung timur pulau Madura ini.

Teranyar, puluhan rumah di Desa Pabian dan Marengan harus terendam banjir setelah kali Marengan tak mampu menampung debit air hujan yang mengguyur selama enam jam.

Tidak hanya itu saja, rumah dinas Wakil Bupati pun tak luput dari genangan air. Bahkan semua jalan utama kota Sumenep nyaris terendam setengah meter lebih, diantaranya sepanjang jalan Trunojo dan dr. Cipto.

Lebih parahnya lagi, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Moh. Anwar Sumenep pun tak selamat dari sasaran banjir hingga mengakibatkan beberapa pelayanan penting terhambat dan  sejumlah pasien harus dibawa pulang lebih awal karena sulit terlayani dengan baik.

Lalu, benarkah Kota Sumenep akan menjadi calon langganan banjir? 

Kekhawatiran  Itulah yang tengah melanda benak sejumlah pihak. Pasalnya, selain banjir karena curah yang memang dahsyat dan turun dsngan dusrasi yang lama, juga ada faktor lain yang dinilai juga menjadi penyebab air hujan tak terserap dengan baik.

Diantaranya, minimnya saluran air resapan yang mempu mengalirkan air lebih cepat, tak normalnya kali yang  selama ini menjadi pembuangan air serta menyempitnya lahan-lahan lantaran menjamurnya gedung dan perumahan.

Jika masalah-masalah tersebut tak segera dicarikan solusi, rasanya masalah banjir (bukan genangan lagi) akan manjadi masalah baru yang akan berkelanjutan dan mengancam ketentraman penduduk Kabupaten berjuluk kota keris ini.

Sementara itu, Wakil Bupati Sumenep Achmad Fauzi, saat mengunjungi rumah-rumah warga yang tergenang air luapan kali Marengan kemarib hanya bisa meminta maaf kepada warga.

“Saya minta maaf ya, luapan air dari kali Marengan masuk ke rumah ibu atau bapak,” kata Achmad Fauzi, saat berada di salah satu rumah warga, di Kecamatan Kalianget, Senin (26/2/2018) siang.

Selain meminta maaf kepada warga, orang nomor dua di Sumenep ini juga melakukan sosialisasi agar warga membuat resapan air untuk meminimalisir terjadinya banjir atau genangan air di rumahnya.

“Tolong ya pak ya buk.. jangan buang sampah sembarangan, biar aliran sungainya tidak tersumbat. Tidak cuma itu, bapak dan ibu juga harus membuat lubang resapan, biar air cepat meresap ke dalam tanah,” pintanya.

Menurut Politisi PDIP ini, setelah dilakukan pengecekan ke beberapa lokasi, ternyata penyebab luapan tersebut akibat banyaknya sampah di selokan.

Atas peristiwa tersebut, pihaknya tidak hanya meminta masyarakat yang harus membuat lubang resapan di rumahnya, melainkan Pemerintah Daerah, juga harus ambil bagian, dengan cara mencarikan langkah dan mencarikan solusi dalam menyelesaikan persoalan banjir di Sumenep.

Apalagi di tahun 2018, Pemerintah Daerah memang sudah menganggarkan dana penanggulangan banjir, yang nilainya sekitar Rp 7 Miliar.

“Anggaran tersebut untuk pembangunan drainase dan memecah pembuangan air menjadi dua, yakni ke Kali Marengan dan Patrian,” pungkasnya.

Reporter : Rosy
Editor : Ist

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.