Sampang, (Media Madura) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sampang terus mencanangkan gerakan menanam pohon. Namun, program itu tak sesuai dengan kondisi di lapangan. Sebab, Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Sampang baru 8 persen. Rabu (31/1/2018).

“Target minimal 30 persen dari luas wilayah untuk RTH,” terang Kabid Konservasi dan Rehabilitasi Lingkungan DLH Sampang Imam Irawan.

Menurut Irawan, kendala selama ini karena tanah milik pemerintah yang akan ditanami pohon konservasi maupun produktif tidak sampai 30 persen.

Selain membuat gerakan menanam pohon kepada masyarakat, pihaknya akan menutup tanah percaton, lapangan, kuburan, dan lahan yang tidak digunakan untuk ditanami pohon.

“Sebenarnya gerakan menanam pohon tidak harus pemerintah, melainkan ditujukan kepada masyarakat agar lahan kosong milik warga ditanami pohon agar hijau, teduh, dan rindang,” ungkapnya.

Dirinya menjelaskan, ada pohon produktif yang didistribusikan ke sekolah-sekolah dalam program adiwiyata. Yakni, 255 pohon mangga dan 271 pohon sawo kecil. Sementara pohon konservasi diambil dari BP DAS.

“Program sekolah adiwiyata di Sampang belum mencapai 1 persen, dari jumlah sekolah yang mencapai ratusan mulai dari SD, SMP, hingga SMA, hanya ada 16 sekolah yang mengikuti program adiwiyata,” jelasnya.

Menurutnya, kesadaran sekolah menyukseskan program adiwiyata sangat sulit. Padahal tidak harus membuat sekolah rindang sekaligus. Yang terpenting ada bibit dan tanaman.

“Untuk mengeluarkan biaya pembelian tanaman, pihak sekolah berat,” akuinya.

Kendati sekolah mengeluarkan dana 20 persen untuk adiwiyata yang tertuang dalam Permen LH Nomor 5 Tahun 2013, biaya lebih banyak digunakan untuk membuat toilet dan lain-lain.

“Jadi masih sedikit sekali sekolah yang melaksanakan adiwiyata,” tandasnya.

Untuk diketahui, ada empat pilar menentukan sekolah adiwiyata. Pertama, infrastruktur mulai dari sanitasi, jumlah toilet harus seimbang dengan jumlah siswa, harus memiliki UKS dan warung sehat.

Kedua, kebijakan sekolah seperti bersih-bersih lingkungan. Ketiga, harus ada kurikulum yang mendukung seperti ada mata pelajaran mengenai lingkungan kepada siswa. Keempat, harus mempunyai keteduhan atau ruang terbuka hijau.

Reporter: Ryan Hariyanto
Editor: Ahmadi

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.