Pemasangan Pipa Air Bersih di Sampang Ditolak Warga

Warga bersikukuh menolak pemasangan pipa air bersih di Desa Banyukapah, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, Senin (20/11/2017) kemarin. (Ryan Hariyanto/MM).
Advertisement

Sampang, (Media Madura) – Warga di Dusun Juberek, Desa Banyukapah, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, menolak pemasangan pipa air bersih. Alasannya hanya karena proyek Sistem Penyediaan Air Bersih (SPAM) tanpa ada sosialisasi dan izin kepada warga. Selasa (21/11/2017).

Penolakan itu disampaikan dari keluarga pasangan suami istri Misnawi dan Samu’a. Mereka menolak lahan yang diklaim miliknya digali proyek SPAM yang bersumber dari dana APBN tersebut.

“Ini tanah saya, jangan seenaknya sendiri menggali di tanah orang tanpa ada izin,” kata Hamiyah (54) putri Misnawi.

Aksi penolakan berlangsung alot. Polisi dan TNI dikerahkan ke lokasi untuk pengamanan dan menimalisir kejadian yang tidak diinginkan. Namun pihak keluarga Misnawi bersikukuh ingin pemasangan pipa air bersih dihentikan. Petugas terus membujuk Misnawi agar keluarganya memperbolehkan pekerja menyelesaikan penggalian.

Tak mau kalah, keluarga Misnawi sengaja bertiduran di areal penggalian pemasangan pipa. Hanya saja, pekerja proyek tidak menggubris dan terus melakukan penggalian. Sehingga petugas keamanan terpaksa menggendong warga agar menjauh dari lokasi.

“Pemerintah jangan tebang pilih, aparat keamanan harus melihat dari dua sisi, jangan yang kuat dan beruang dibela, rakyat kecil diinjak,” teriak Hamiyah dengan histeris.

Situasi semakin memanas ketika keluarga Misnawi lainnya terus berdatangan ke lokasi. Mereka terus mengancam penggalian pemasangan pipa air bersih dihentikan. Jika tidak, alat-alat dan bahan material diancam dirusak.

Hal senada disampaikan, H. Fauzi (42) putra Misnawi, pihaknya bukannya tidak memperbolehkan. Tapi pelaksana proyek tidak ada iktikad baik dengan meminta izin terlebih dahulu. Tiba-tiba langsung melakukan penggalian. Makanya, pihak keluarga menghentikan pekerjaan tersebut. Menurutnya, lahan miliknya resmi bersertifikat atas nama Pak Sejani, kakeknya.

”Kami menstop karena tidak ada koordinasi, tapi kata-katanya jika tidak diperbolehkan aparat yang akan menggali,” tuturnya.

Sementara itu, Silot selaku pelaksana sekaligus Sekdes Banyukapah, mengelak jika pihaknya belum meminta izin termasuk sudah berkordinasi dengan tokoh masyarakat (tomas) sekitar yakni Mat Taji, besan Hamiyah. Namun iktikad itu mentah karena tiga tomas tidak memberikan izin.

“Sudah ada izin kok bagaimana solusi jalan keluarnya karena proyek ini mandek sampai sebulan, dari tomas tidak ada solusi sehingga memberitahukan ke Babin Kantibmas, karena waktu mepet akhirnya terpaksa melanjutkan penggalian,” tandasnya.

Sekedar diketahui, dana proyek tersebut sebesar Rp 240 juta. Awal pengerjaan dilakukan pertengahan bulan Agustus hingga akhir November. Proyek yang bersumber dari APBN itu panjangnya 1.800 meter. Lokasi sumber di Dusun/Desa Banyukapah. Rencana SPAM untuk dua dusun, yakni Dusun Banyukapah dan Dusun Juberek. Pekerjaan sudah 95 persen, tinggal penyambungan pipa.

Reporter: Ryan Hariyanto
Editor: Ahmadi

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.