Petani Garam (dok/MM)

Pamekasan, (Media Madura) – Petani garam di Madura, Jawa Timur terpaksa melakukan panen dini atau lebih awal karena masuk musim penghujan.

Sekjend Asosiasi Petani Garam Republik Indonesia (APGRI), Faishal Baidlowi mengatakan, beberapa hari wilayah Madura diguyur hujan dengan intensitas cukup tinggi, maka produksi garam sudah berakhir. Terhitung sejak akhir bulan Juli hingga awal November.

“Curah hujan cukup tinggi di wilayah Madura dan Jawa. Sehingga rata-rata sentra garam sekaligus produksi garam sudah mulai berhenti,” katanya, Kamis (16/11/2017).

Faishal menambahkan, meski para petani garam panen lebih awal, namun garam yang dihasilkan dalam kurun empat bulan itu mampu memenuhi kebutuhan nasional.

“Memang idealnya masa produksi garam itu antara lima hingga enam bulan,” jelasnya.

“Tetapi, faktanya tahun ini lebih singkat. Bahkan, dalam waktu yang cukup singkat itu, petani garam masih sempat dibuat bingung lantaran pada awal bulan Oktober lalu sempat turun hujan,” tambahnya.

Diakui, sejak awal Oktober lalu, produksi garam sempat tertunda kira-kira sepekan hingga 10 hari. Karena hujan mulai turun, apalagi untuk meningkatkan air tua butuh waktu.

Tahun 2017, estimasi hasil produksi garam mencapai 1,3 hingga 1,6 ton. Jika dibandingkan produksi 2014 dengan cuaca normal, jumlah tersebut jauh lebih kecil. Tapi produksi garam nasional mencapai 2,19 juta ton.

Reporter: Rifqi
Editor: Zainol

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.