200 Ribu Lebih Penduduk Sumenep Masih Miskin

Salah satu warga miskin di Sumenep

Sumenep, (Media Madura) – Angka kemiskinan di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur masih terbilang cukup tinggi. Itu didasarkan pada data Badan Pusat Statistik (BPS), bahwa angka kemiskinan mencapai 20 persen.

“Sampai dengan akhir tahun 2016 lalu, ada 216.140 warga atau 20, 09 persen dari total 1.076.000 jiwa masih berada dibawah garis kemiskinan,”terang Kepala BPS Sumenep, Syaiful Rahman, Selasa (17/10/2017).

Menurut Rahman, angka tersebut sebetulnya mengalami penurunan dibandingkan 2015 lalu, yang mencapai 216.880 atau 20 persen dari total jumlah penduduk.

Bahkan, selama beberapa tahun terakhir penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan di daerahnya juga trendnya mengalami penurunan, 2014, yakni 20,49 persen menjadi 20,2 persen di 2015.

“Begitu juga pada tahun ini, angka kemiskinan ada indikasi kembali menurun,” terangnya.

Lebih lanjut diterangkan, penurunan persentase kemiskinan itu mengindikasikan program Pemerintah Daerah berkaitan dengan pengentasan kemiskinan berhasil walaupun perubahannya tidak segnifikan. 

“Tidak sigbifinan karena turunnya angka kemiskinan tidak sampai 1 persen per tahun,” ungkapnya.

Kemudian, warga yang dinyatakan berada dibawah garis kemiskinan tersebar di seluruh Kecamatan baik daratan maupun Kepulauan dengan tingkat pendapatan sebulan tidak mencapai Rp 301.781.

“Dan apabila dilihat dari indeks kedalaman kemiskinan (Poverty Gap Index-P1) atau  kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin tahun 2016 relatif lebih baik dibanding 2015, yakni dari 2,39 menjadi 2,9 persen,” pungkasnya. 

Sementara di tempat terpisah, Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumenep, Yayak Nurwahyudi menyatakan, dengan jumlah penduduk 1 juta jiwa lebih tidaklah mudah dalam mengentaskan kemiskinan. 

Yang terpenting, pihaknya selaku pemerintah akan terus berupaya mengatasi kemiskinam melalui dua pendekatan, yaitu pemenuhan makanan dan non makanan.

“Pendekatan makanan dengan meningkatkan program produksi pertanian, perkebunan, dan perikanan. Sedangkan non makanan berupa layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan. Kemudian infrastruktur dasar  diantaranya program sanitasi dan air bersih,” tandasnya.

Reporter : Rosy

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.