Sumenep, 7/8 (Media Madura) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur memdeteksi daerah rawan kekeringan bertambah dari pemetaan bulan sebelumnya.

Sebelumnya, BPBD menyatakan, ada 36 desa yang masuk zona kekeringan dan tersebar di sekitar sepuluh kecamatan, kini bertambah menjadi 38 desa yang berada di 13 kecamatan.

Desa-desa tersebut antara lain tersebar di Kecamatan Pasongsongan, Batuputih, Dasuk, Batang-Batang serta Rubaru. Kemudian wilayah Kecamatan Ganding, Lenteng, Pragaan, Bluto, Batuan, Nonggunong dan Kecamatan Gili Genting.

Menanggapi hal itu, anggota Komisi IV DPRD setempat, Moh. Jubriyanto meminta agar BPBD menciptakan terobosan baru dalam menangani kekeringan yang berpotensi mengancam puluhan desa tersebut.

“Di antaranya, BPBD harus sigap dalam menyediakan pasokan air bersih saat dibutuhkan oleh masyarakat,” ujar Moh. Jubriyanto, Senin, (7/8/2017).

Terlebih, sejak jauh-jauh hari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Kalianget, sudah memberikan informasi, bahkan sejak bulan Juli, Sumenep sudah mulai memasuki musim kemarau, meskipun terkadang masih turun hujan ringan.

“Untuk itu, kami mengimbau agar BPBD diantisipasi lebih awal, jangan sampai masyarakat kekurangan air bersih, setidaknya untuk memasak, mandi dan mencuci,” selanya.

Secara terpisah, Kepala BPBD Sumenep, Abd. Rahman mengaku, saat ini pihaknya masih melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk mengantisipasi kekeringan, salah satunya Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya.

“Memang benar, puluhan desa masuk dalam zona rawan kekeringan kemarau saat ini, langkah antisipasi juga tengah lakukan untuk hal itu,” ungkapnya.

“Dilain pihak, kami juga meminta kepada masyarakat untuk pro aktif dalam menginformasikan adanya kekeringan, tidak hanya di desa-desa yang rawan, karena informasi sangat penting bagi kami untuk melakukan tindakan cepat,” pungkasnya.

Reporter: Rosy
Editor: Zainol

Tinggalkan Balasan