Pamekasan, 19/7 (Media Madura) – Bos Madura United, Achsanul Qosasi atau AQ menaruh curiga terhadap PSSI. Hal itu buntut dari penggunaan wasit asing pada putaran kedua Liga 1 mendatang.

AQ menilai sebutan wasit asing masih umum, sehingga membuat tim peserta tak terkecuali Madura United bingung. Menurutnya, keputusan PSSI memakai jasa wasit asing pada laga putaran kedua patut dipertanyakan, jika perlu dikaji ulang.

“Kenapa tidak sekalian saja pengelola kompetisi juga serahkan ke asing?. Saya hanya menyayangkan sikap kita yang selalu berpikiran bahwa asing lebih hebat dari kita,” katanya.

“Kalau wasit diambil dari Premier League mungkin hebat. Tapi jika wasit juga diambil dari kawasan Asia Tenggara, saya kok pesimis mereka lebih bagus dari kita,” sambung AQ.

AQ mengatakan, bila terbukti benar wasit asing yang didatangkan PSSI dari Asia Tenggara, maka kondisinya tidak akan jauh berbeda dengan yang terjadi di Tanah Air. Dengan begitu, terobosan baru PSSI ini menjadi sia-sia.

Pernyataan AQ tersebut berdasar pada pengalaman beberapa kompetisi yang bergulir di negara tentangga. Bahwa kinerja wasit di sana juga menjadi sorotan.

“Silakan dicek, kompetisi di Malaysia, Singapura, Thailand dan India, juga menghadapi persoalan wasit. Wasit mereka tidak lebih baik dari kita,” ungkapnya.

Entah apa yang membuat AQ begitu yakin jika nantinya perangkat pertandingan bukan dari liga-liga besar di Eropa.

“Jika mendatangkan wasit asing, jangan dikira yang hadir nanti adalah wasit LaLiga, Premier League atau Serie A, sebagaiman sering kita lihat di telivisi (dan pasti menjadi rujukan penikmat bola indonesia),” ujar AQ.

“Wasit asing yang hadir ke Indonesia nanti, pasti wasit kawasan Asia atau Asia Tenggara, yang kita tahu kualitas mereka tidak beda jauh dengan kita (wasit Indonesia.red),” imbuhnya.

AQ menambahkan, pihaknya lebih setuju PSSI membenahi kekurangan-kekurangan wasit Indonesia dibanding mendatangkan wasit asing.

“Yang kita butuhkan saat ini adalah peningkatan kualitas wasit dengan cara melakukan pelatihan, pendidikan yang kontinyu, penghargaan eksistensinya serta peningkatan kesejahteraannya. Dan ini adalah tugas PSSI,” AQ menegaskan.

Jika perlu, lanjut AQ, PSSI meberikan apresiasi berupa poin jika wasit memimpin laga dengan baik. Poin tersebut diakumulasi sampai akhir kompetisi dan diberikan penghargaan berupa uang dan lainnya.

“Supaya wasit berlomba-lomba meminpin dengan baik melalui pengumpulan poin yang dinilai secara terbuka. Jika tidak baik, kurangi poin-nya, jika kesalahan fatal silakan diistrahatkan. System ini cukup manusiawi, krn wasit itu juga ada “offday” sbgmn pemain,” tuturnya.

Di satu sisi, PSSI tambah AQ, mulai menunjukkan perannya membereskan persoalan wasit di Indonesia, utamanya di Liga 1. Hal itu tidak lepas dari banyaknya keluhan dari tim peserta yang merasa dirugikan wasit.

“Ketegasan PSSI saat ini sdh mulai mucul dan patut kita apresiasi.. Silahkan perbaiki pola rekrutmen, peningkatan pengetahuan terhadap peraturan dan tegas terhadal keputusan yang diambil,” terangnya.

“Pengelola Liga dan PSSI jangan juga hanya bisa menghukum wasit, tanpa ada enpowerment dan program penyegaran wasit. Perbaiki yang ada, itu lebih baik daripada memuliakan orang asing. Wasit adalah wakil Tuhan, tapi dia tetap manusia biasa,” pungkasnya.

Reporter: Zainol
Editor: Ahmadi

Tinggalkan Balasan