Oleh Esa Arif As*)

Burung lovebird merupakan spesies burung beo yang habitat aslinya berada di negara-negara di benua Afrika, burung dengan warna mencolok ini di impor ke eropa sekitar tahun 1800 Masehi dan terus berkembang ke Negara di Benua Amerika dan Asia, sayangnya tidak ada catatan pasti kapan burung ini pertama kali masuk ke Indonesia.

Burung Agapornis ini menyita perhatian masyarakat luas khususnya pencinta burung di tanah air, bahkan demam lovebird meluas hingga ke seluruh pelosok negeri. Di Madura burung ini sangat populer dan menjadi komunitas bisnis dengan nilai jual yang sangat tinggi.

Lovebird mulai menyita perhatian masyarakat Madura sekitar tahun 2011 lalu, dimana saat itu hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu yang secara ekonomi sudah mapan, sebab harga lovebird saat itu sangat tinggi dan jumlahnya sangat sedikit. Tetapi pada perkembangannya popularitas dan dominasi burung ini menurun di tahun 2013 karena saat itu burung kenari lebih mendapatkan tempat, tetapi popularitas burung kenari tidak bertahan lama dan lovebird kembali berjaya hingga saat ini.

Kejayaan burung ini ditandai dengan munculnya kelompok-kelompok, komunitas-komunitas pencinta di berbagai daerah, komunitas ini kemudian berkembang menjadi tempat berdiskusi dan bertukar pikiran tentang burung cinta ini. Dari komunitas di dunia nyata akhirnya kelompok ini berkembang di media sosial bahkan ratusan akun media sosial pencinta lovebird bisa ditemui saat ini sebagai tanda tingginya demam terhadap burung ini.

Komunitas yang ada tersebut kemudian berkembang ke arah bisnis, diawali dari transaksi antar anggota komunitas dengan skala kecil hingga saat ini transaksinya tidak terhitung, baik jual beli secara langsung maupun secara online.

Sayangnya, belum ada aturan yang jelas dalam bisnis lovebird ini dan cenderung menjurus pada pasar bebas. Dalam teori pasar bebas, hukum permintaan dan penawaran yang menentukan harga. Persaingan dengan sesama, menentukan sendiri arah bisnisnya, tanpa campur tangan pemerintah termasuk penentuan harga dan lain sebagainya.

Dalam kondisi seperti ini, sirkulasi bisnis burung ini sangat rentan sebab pasar menjadi sangat tidak menentu, saat barang dalam jumlah banyak memenuhi pasar, sementara permintaan sangat sedikit maka akan mempengaruhi harga, begitupun sebaliknya, sehingga pasar akan terus ditentukan oleh spekulasi-spekulasi dan kecenderungannya merugikan pelaku bisnis ini di semua level. perputaran perdagangan seperti ini sulit bertahan lama dan terus berjalan dalam ketidak pastian arah. Kita tentu memahami bagaimana rasanya hidup dalam ketidakpastian itu, meakipun hingga saat ini bisnis lovebird ini masih sangat menjanjikan dan dalam laju yang stabil bahlan sangat kencang.

Lovebird mempunyai jenis yang berbeda-beda mulai dari lutino, parblue, holland, biru, olive, dakocan, albino, pastel, kepala emas, blorok dan berbagai jenis lainnya dengan tingkatan harga yang berbeda-beda. Burung ini harganya akan lebih mahal apabila dijual berpasangan dengan catatan pasangan tersebur serasi, entah bagaimana cara mengukur keserasian burung ini, hanya pencinta burung yang tahu dan penjelasannya akan sangat rumit.

Burung ini bisa dibudidaya bahkan diternak dengan jumlah yang sangat besar untuk kepentingan bisnis, dimana harga jenis anakan dari burung ini masih berkisar Rp 250 ribu, sungguh harga yang cukup tinggi untuk harga seekor burung, tetapi harga itu bisa lebih tinggi sesuai dengan jenis burungnya.

Untuk Lovebird jenis Blorok, anakan sekitar Rp 1 juta, dewasa bisa Rp 2 juta. Harga Lovebird Kepala Emas, anakan berkisar Rp 500 ribu, dewasa bisa mencapai Rp 1 juta. Lovebird Pastel Hijau, anakan aekitar Rp 250 ribu dan dewasa sekitar Rp 400 ribu. Untuk jenis kuning, anakan sekitar Rp 250 ribu, dewasanya sekitar Rp 400 ribu. Biru anakan sekitar Rp 300 ribu, dewasa sekitar Rp 500 ribu. Hitam anakan sekitar Rp 250 ribu, dewasa Rp 500 ribu.

Harga Lovebird Olive, anakan sekitar Rp 400 ribu, dewasa Rp 650 ribu. Untuk harga Lovebird Biru, Violet anakan aekitar Rp 450 ribu, dewasa Rp 650 ribu. Biru cobalt anakan Rp 400 ribu, dewasa Rp 650 ribu. Sementara untuk harga Lovebird Holland dewasa bisa mencapai Rp 650 ribu.

Lovebird Albino, Mata Hitam anakan aekitar Rp 350 ribu, dewasa swkitar Rp 500 ribu. Mata Merah, aakan Rp 450 ribu, dewasa sekitar Rp 650 ribu. Lovebird Dakocan, Hijau anakan sekitar Rp 300 ribu, dewasa Rp 500 ribu. Biru anakan Rp 450 ribu, dewasa Rp 600 ribu.

Daftar harga tersebut bisa berubah sesuai dengan gejala dan fenomena bisnis yang terjadi di gerbong perjalanan masyarakat pencinta loveberd ini, tanpa ada hukum dan aturan yang mengikatnya.

Fenomena demam lovebird ini memang aneh dan hampir mendekati “kegilaan”, susah dijabarkan dengan logika sempurna, gejala demam menjangkit di setiap lapisan masyarakat dari berbagai profesi dan lintas generasi. Inilah fenomena sosial yang sedang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita, entah kapan akhir perjalanan semesta cinta lovebird ini berakhir.

* Penulis adalah direktur mediamadura.com, saat ini aktif menjadi pemerhati sosial.

Tinggalkan Balasan