Pamekasan, 15/3 (Media Madura) – Program pemerintah pusat pada bidang pendidikan yang mewajibkan anak belajar 9 tahun nampaknya tak sepenuhnya terealisasi di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur.

Hal itu diketahui dari angka anak putus sekolah di Kabupaten Pendidikan itu yang jumlahnya mencapai ratusan orang. Mereka tidak melanjutkan ke sekolah formal jenjang sekolah menengah pertama (SMP) dan sederajat.

Angka tersebut diungkapkan oleh Pelaksana Teknis (Plt) Kepala Dinas Pendidikan (Disdik), Pamekasan, Moch Tarsun. Namun ia berdalih tidak mengetahui data pasti angka putus sekolah tersebut.

“Kami tidak pegang data detail, tapi yang jelas ada ratusan anak (putus sekolah),” kata Tarsun, Rabu (15/3/2017).

Salah satu penyebabnya, lanjut Tarsun, karena rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan formal.

“Masyarakat masih kurang sadar akan pendidikan formal, sebagian besar siswa lulusan SD dan sederajat tetap menempuh pendidikan di pondok pesantren, tanpa sekolah formal,” jelas Tarsun.

Dijelaskan Tarsun, di daerahnya terdapat sekitar 767 lembaga pendidikan setingkat SD. Terdiri dari 471 SD dan 296 Madrasah Ibtidaiyah, dengan rata-rata setiap tahun meluluskan 15 ribu siswa lebih. Sehingga 2 persen dari jumlah itu, ada sekitar 300 siswa yang tidak melanjutkan ke jenjang di atasnya.

“Kami akan terus melakukan pendekatan pada siswa dan walinya, agar kesadaran pendidikannya meningkat. Tapi, kami kira capaian 98 persen wajib belajar 9 tahun itu sudah dalam kategori bagus, kalau dibandingkan dengan daerah lain,” tutupnya.

Reporter: Rifqi
Editor: Ahmadi

Tinggalkan Balasan