Sumenep, 21/1 (Media Madura) – Keluarga KH Ahmad Basyir, Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Latee, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, Jawa Timur memberikan klarifikasi terkait beredarnya cuplikan gambar (screen capture) status Facebook milik Ibrahim Muzammil yang menyebut Kiai Basyir memberi doa dan restu kepada DPW FPI Sumenep.

“Setelah saya matur kepada KH Ahmad Basyir apakah dalam beberapa bulan terakhir ada seseorang yang sowan untuk semacam minta izin, mohon restu atau sambungan doa untuk mendirikan FPI di Sumenep, jawaban beliau sama sekali tidak ingat. Tidak merasa,” tulis Kiai Ainul Yaqin, putra Kiai Basyir di akun Facebook Acing Muhammad Ainul Yaqin, Jumat (20/1/2017). kemarin.

Seperti dilansir dari NU Online, apabila ada unsur pengurus Front Pembela Islam (FPI) yang merasa telah sowan kepada Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep terkait hal dimaksud tapi merasa disanggah, yang bersangkutan diminta sowan lagi.

“Sebaiknya yang bersangkutan sowan lagi kepada beliau dengan disaksikan keluarga beliau dan pengasuh PP Annuqayah lainnya karena beliau dikaitkan dengan FPI dengan kapasitas beliau sebagai pengasuh PP Annuqayah,” pintanya.

Hal tersebut dianggap penting agar upaya dakwah yang sesungguhnya menjadi tanggungjawab setiap muslim. 

“Dengan batas kemampuan dan pilihan jalan dakwah yang tidak mesti sama, tidak justru menjadi akar fitnah yg pasti hanya akan memecah belah,” pungkasnya.

Sebelumnya, sejumlah spanduk penolakan terhadap Organisasi Front Pembela Islam (FPI) yang bertebaran di beberapa tempat strategis di seputaran Kota Kabupaten Sumenep diturunkan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP).

Bahkan, keberadaan spanduk berukuran besar berisikan kecaman yang terpasang secara ilegal tersebut tidak sampai 24 jam akhirnya diturunkan karena bernuansa penolakan dan provokatif.

Kasi Perda Satpol PP Sumenep, Dullah mengatakan, berdasarkan hasil koordinasi dengan pihak Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) setempat, spanduk tersebut tidak mengantongi izin.

“Ya karena tidak mengatongi izin, kita turunkan saja spanduk tersebut,” tegasnya beberapa waktu lalu.

Menurunya, penurunan spanduk dilakukan karena dinilai mengandung konflik di Sumenep. “Isi dalam spanduk berbahaya, bisa mengundang konflik dan kegaduhan,” ujarnya.

Bahkan, aksi serupa juga dilakukan oleh sejumlah warga dengan menurunkan secara paksa spanduk yang terbentang di simpang tiga Kolor Sumenep. 

“Masyarakat Sumenep menurunkan spanduk yg bertuliskan ‘FPI PEMECAH BELAH NKRI, TOLAK FPI DI SUMENEP’ di simpang tiga kolor Sumenep,” tulis pemilik akun facebook bernama Ainur R yang dibagikan di salah satu group facebook.

Penulis: Panji Agira
Editor: Ahmadi

Tinggalkan Balasan