Pamekasan, (Media Madura) – Menjelang sore di Jalan Raya Desa Bunder, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, aktivitas mulai terasa berbeda di depan sebuah rumah sederhana berdinding bilik bambu. Sekitar pukul 15.00 WIB, seorang perempuan paruh baya tampak sibuk menata beberapa wadah makanan di atas meja kecil. Dialah Ibu Ismail, pedagang makanan berbuka puasa yang setiap hari mengandalkan lapak sederhana itu untuk menyambung hidup.
Tempat ia berjualan jauh dari kata mewah. Rumah yang ia tempati bahkan bukan miliknya sendiri. Ia hanya mendapat izin menempati bangunan itu dari seorang tetangga. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu, sementara ruang sempit di dalamnya merangkap sebagai tempat menyiapkan dagangan.
Namun dari tempat sederhana itulah, Ibu Ismail menjalani hari-harinya dengan tekun. Setiap sore di bulan Ramadan, ia menyiapkan beberapa menu rumahan untuk warga sekitar yang mencari hidangan berbuka puasa. Capcay menjadi salah satu menu andalannya, disusul beberapa masakan sederhana lain yang dimasak sendiri dengan peralatan seadanya.
Kesederhanaan itulah yang belakangan menarik perhatian banyak orang. Sebuah video yang merekam aktivitas Ibu Ismail saat berjualan diunggah oleh akun Instagram MADURAHOLIC. Tanpa disangka, video tersebut cepat menyebar di media sosial.
Dalam waktu singkat, rekaman itu ditonton ratusan ribu kali. Hingga berita ini ditulis, video tersebut telah ditonton sekitar 548 ribu kali, disukai lebih dari 57,5 ribu pengguna, mendapat lebih dari seribu komentar, serta dibagikan sekitar 1.600 kali.
Di balik angka-angka itu, tersimpan cerita tentang ketekunan seorang pedagang kecil yang berusaha bertahan dengan cara sederhana.
Viralnya video itu rupanya juga sampai ke telinga Anggota DPR RI Komisi VIII Fraksi PDI Perjuangan dari Daerah Pemilihan Madura, Hj. Ansari. Tersentuh dengan kondisi yang ia lihat di media sosial, legislator perempuan asal Pamekasan itu memutuskan datang langsung ke lokasi untuk menemui Ibu Ismail.
Suatu sore di bulan Ramadan, Hj. Ansari tiba di lapak kecil itu bersama suaminya, H. Taufadi, yang juga menjabat sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Pamekasan.
Kehadiran mereka seketika menarik perhatian warga sekitar yang melintas.
Di tengah suasana hangat Ramadan, Hj. Ansari tampak menyapa dan berbincang akrab dengan Ibu Ismail. Percakapan sederhana berlangsung di depan lapak tempat perempuan itu setiap hari menjajakan makanan berbuka puasa.
“Video ibu viral dan sampai ke saya, sehingga saya ingin datang langsung melihat dan berbagi sedikit rezeki di bulan Ramadan ini,” ujar Hj. Ansari kepada Ibu Ismail, Rabu (11/3/2026) sore.
Sebagai bentuk dukungan, Hj. Ansari membeli seluruh makanan yang dijual Ibu Ismail sore itu. Tidak hanya itu, ia bersama H. Taufadi juga membeli dagangan kelapa milik pedagang lain yang berjualan tak jauh dari lokasi.
Beberapa warga yang menyaksikan momen tersebut tampak berhenti sejenak. Di pinggir jalan desa itu, mereka melihat pemandangan yang jarang terjadi, seorang wakil rakyat datang menyapa pedagang kecil dan berbincang santai di tengah hiruk pikuk persiapan berbuka puasa.
Di bulan yang identik dengan semangat berbagi, pertemuan sederhana itu meninggalkan kesan tersendiri. Dari sebuah lapak kecil berdinding bambu, kisah perjuangan Ibu Ismail bukan hanya menyebar di media sosial, tetapi juga menghadirkan empati banyak orang.
Kadang, cerita yang menggerakkan hati memang tidak lahir dari tempat besar. Ia justru tumbuh dari ruang kecil di pinggir jalan, dari tangan seorang ibu yang setiap hari memasak dan berharap dagangannya cukup untuk menyambung hidup. (*)


