Lomba Menggambar Anak yang Digelar IGI Pamekasan Disoal

Pamekasan, (Media Madura) – Ikatan Guru Indonesia (IGI) Cabang Pamekasan menggelar lomba menggambar anak, dalam rangka memperingati hari guru nasional.

Lomba ini digelar di aula pendopo Ronggosukowati pada hari Minggu (22/11/2020). Sebanyak 260 peserta mulai tingakt RA, PAUD dan SD mengikuti ajang bergengsi ini.

Lomba menggambar ini dibagi dalam tiga kelas, yakni TK/RA, SD kelas 1-3 dan SD kelas 4-6. Nama-nama pemenang dari berbagai tingkatan ini diumumkan saat lomba menggambar usai. Tetapi masalah muncul setelah adanya surat edaran yang berisi nama-nama pemenang lomba ke sekolah-sekolah, di mana pemenang lomba yang diumumkan di lokasi lomba dan surat edaran justru berbeda.

Salah seorang wali siswa yang namanya enggan dimediakan mengatakan, ia kecewa terhadap penyelenggara lomba mewarnai tersebut karena dinilai tidak profesional.

“Kok bisa nama pemenang yang diumumkan di lokasi lomba dan surat edaran pemenang yang dikirim ke sekolah berbeda,” kata orang tua salah satu peserta lomba ini.

Dikatakan, selain perbedaan nama pemenang tersebut, juga ada peserta yang hasil menggambarnya dinilai tidak layak menang tetapi justru masuk menjadi pemenang.

“Itu terkesan dipaksakan untuk menang dan hasil menggambarnya tidak layak juara,” katanya.

Menanggapi hal itu, ketua IGI Cabang Pamekasan, Ali Mahbub mengatakan, lomba menggambar itu merupakan rangkain acara dalam rangka memperingati hari guru nasional, dan puncak acara akan digelar pada tanggal 26 November 2020.

Dijelaskan, penjurian lomba menggambar tersebut dilakukan sesuai dengan prosedur dan teknis penilaian yang telah disampaikan di awal. Bahkan demi menjaga netralitas pihaknya mendatangkan juri tingkat nasional.

Bahkan, Ali Mahbub menjelaskan, untuk menjaga netralitas juri, sistem penjuriannya setiap peserta tidak menggunakan nama, tetapi angka.

“Dengan menggunakan penomoran terhadap peserta ini agar juri benar-netral dan tidak mengenal peserta. jadi kami telah berupaya seprofesional mungkin,” katanya.

Diceritakan, kesalahan teknis terjadi karena seorang peserta di kelas SD 4-6 menyetorkan hasil menggambarnya di kelas SD 1-3. Hal itu diketahui setelah pengumuman juara.

“Jadi juri melakukan penilaian per kategori. Mulai TK, SD 1-3 dan SD 4-6. Nah saat pengumuman di kelas SD 1-3 untuk juara 2, ternyata pemenangnya adalah lukisan dari kelas SD 4-6. Setelah prosesi foto juara dilakukan ternyata diketahui jika ada kesalahan dan anak ini mengakui jika itu bukan lukisannya. Tetapi memang kebetulan nomornya sama tetapi beda ketegori,” urainya.

Dikatakan, salah satu peserta tersebut salah menyetorkan hasil lukisannya di kelas yang berbeda. Dan juri kembali melakukan penilaian dengan sangat hati-hati.

“Kebetulan hasil lukisan anak ini memang bagus. Jadi yang awalnya lukisan ini juara 2 di kategori SD 1-3 ternyata tetap juara 2 di kategori SD 4-6. Karena pengumuman juara sudah dilakukan maka dengan mempertimbangkan banyak hal. Kami memutuskan tidak memilih juara 2 di kelas SD 1-3, tetapi menaikkan juara di bawahnya. Dan di kelas SD 4-6 ada juara 2 yang jumlahnya dua orang, karena memang nilainya di atas juara 3,” urainya.

Tetapi Ali Mahbub memastikan bahwa penjurian tersebut telah dilakukan dengan sangat profesional dan kehati-hatian.

Reporter : Arif
Editor : Zainol

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.